HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Diberdayakan oleh Blogger.

Facebook

Slider

sponsor

sponsor
spot.com

KESEHATAN

Hari Ulang Tahun


DAERAH

POLITIK & HUKUM

PENDIDIKAN

OLAHRAGA

WISATA

Selamat Berbahagia


Pages

Popular Post

Mengenal Airlangga Hartarto: Cucu Pahlawan Kemerdekaan, yang Kini Berjuang Membangkitkan Perekomian.


Matalensa.co.id.
- Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, ternyata bukan keturunan dari orang sembarangan. Pemimpin sukses yang merupakan salah satu kepercayaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini, merupakan garis keturunan dari seorang pejuang kemerdekaan RI, R.H. Didi Sukardi.




Nama pejuang Didi Sukardi bagi masyarakat di Tanah Air, khususnya di Sukabumi, Jawa Barat, masih belum lekang dalam ingatan masyarakat. Apalagi, perjuangan Didi Sukardi -- orangtua dari Hartini, ibu kandung Airlangga Hartarto -- yang tidak lain merupakan putri tercinta pejuang Didi Sukardi.



Airlangga Hartarto merupakan buah hati pasangan Hartarto Sastrosunarto - Hartini, yang juga mempunyai jasa membangun negeri ini. Selain cucu seorang pahlawan, leluhur Airlangga juga masuk dalam catatan sejarah di Indonesia. Airlangga juga ternyata memiliki silsilah keluarga keturunan Kiai Ageng Gribig, yang menurunkan raja-raja Mataram. 



Airlangga merupakan sosok pemimpin yang berhasil dalam segala bidang. Mulai dari bidang pendidikan, dunia usaha, dan politik, yang saat ini tengah berjuang membangkitkan perekonomian Indonesia di tengah pandemi Covid-19. Banyak amanah yang sedang diembannya untuk memajukan bangsa.



Meski berada di dalam lingkaran Presiden Jokowi ini, Airlangga yang juga Ketua Umum Partai Golkar tersebut, juga tidak melupakan waktunya untuk keluarganya. Dalam memanfaatkan waktu yang tidak lama sekalipun, Airlangga selalu menyempatkan diri untuk menziarahi pusara kakeknya, Didi Sukardi.



Bagi masyarakat, Didi Sukardi adalah salah satu tokoh yang menjadi panutan dan patut untuk dihormati. Didi Sukardi tetap dikenang karena melihat jasanya memperjuangan peningkatan taraf hidup rakyat Sukabumi. 



Didi Sukardi juga pernah mendapatkan amanah untuk menduduki jabatan sebagai menteri. Meski sebagai menteri, Didi Sukardi selalu menanamkan keyakinan kepada masyarakat, bahwa berjuang dan berkarya untuk mencapai hal besar, justru harus dimulai dari hal yang kecil.



Dorongan itu juga ditanamkan Didi Sukardi terhadap anak - anaknya termasuk menantunya, Ir. Hartarto Sastrosoenarto. Nama Didi Sukardi semakin terkenal karena Hartarto Sastrosoenarto, juga dipercaya untuk menduduki jabatan menteri, pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.



Jabatan mentereng sebagai menteri dipercayakan kepada Hartarto Sastrosoenarto. Mulai dari Menteri Perindustrian pada Kabinet Pembangunan IV (1983-1988) dan Kabinet Pembangunan V (1988-1993) dan Menteri Koordinator bidang Produksi dan Distribusi pada Kabinet Pembangunan VI (1993-1998).



Tidak heran, kemampuan Didi Sukardi maupun menantunya, mewariskan semua itu terhadap Airlangga Hartarto. Meski memiliki latar belakang dari keluarga pesohor, Airlangga yang dilahirkan di Kota Surabaya, 1 Oktober 1962 silam, juga ditanamkan wejangan dari kedua orangtuanya, Hartarto Sastrosoenarto-R. Hartini Soekardi.



Dari Surabaya, Airlangga meneruskan sekolah menengahnya di SMA Kolese Kanisius Jakarta. Dia dikenal sebagai pribadi yang aktif. Saat di SMA, dia menjadi ketua OSIS. Perjalanan karirnya semakin cemerlang, dan masyarakat di Tanah Air pun mulai mengenal Airlangga.



Sebelum mengemban amanah Ketum Golkar, Menko Perekonomian, dan Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN), Airlangga pernah menjabat anggota DPR RI dua periode. Dan pada periode pertama Presiden Jokowi, dia dipercaya sebagai Menteri Perindustrian.



Mengutip artikel dari Dr. Yuda Benharry Tangkilisan yang berjudul “R.H. Didi Sukardi and The Negara Pasundan: A Nationalist In The Federal State During The Indonesia Revolution 1945-1949”, kakek Airlangga itu merupakan salah satu tokoh yang berpengaruh di Sukabumi.



Didi Sukardi merupakan tokoh masyarakat Sukabumi terutama masa revolusi fisik dalam mempertahankan kemerdekaan. Dia merupakan tokoh nasionalis di kancah negara federal. Ini dapat dilihat dari pemikiran nasionalistik yang terdapat dalam pidato-pidatonya.



Didi Sukardi sendiri awalnya seorang pengusaha perkebunan. Akhir tahun 1920, dia juga menjadi Dewan Kabupaten Sukabumi. Kemudian dia juga menjadi ketua cabang dari Paguyuban Pasundan.



Sebelum kedatangan Jepang, Didi Sukardi sempat menjadi pemimpin dari Partai Indonesia Raya dan juga Gabungan Partai Politik Indonesia (GAPI). Ketika zaman pendudukan Jepang, dia menjadi petugas penghubung dari Pembela Tanah Air (PETA).



Ketika proklamasi kemerdekaan, dia berada di Sukabumi. Dia kemudian menjadi anggota Komite Nasional Indonesia di Sukabumi. Komite ini memiliki kontribusi terhadap ide mengirim delegasi ke pemerintahan militer Jepang di Bogor.



Dia bernegosiasi dengan penguasa Jepang dari syuchokan tentang permintaan untuk transfer kekuasaan kepada republik baru.



Jepang merespon permintaan dengan kebijakan mempertahankan status quo, yaitu hanya mengikuti perintah negara-negara sekutu. Akibatnya pecah pertempuran Bojongkokosan.



Setelah perang berakhir, Didi Sukardi diangkat menjadi menteri di Negara Federal Pasundan. Setelah Indonesia kembali menjadi negara kesatuan, dia menjadi anggota Dewan Konstituante. Pemerintah menghormati jasa kakek Airlangga dengan mengabadikan nama Didi Sukardi menjadi nama sebuah jalan di Jawa Barat.



Dari banyak pemberitaan, Airlangga Hartarto diketahui beberapa kali berziarah ke pemakaman kakeknya itu, di TPU Ciandam, Kecamatan Cibeureum, Kota Sukabumi.

Salah satu paman Airlangga dan juga anak Didi Sukardi adalah Letkol Edi Sukardi. 



Letkol Edi tercatat sebagai pemimpin dalam pertempuran Bojongkokosan yang terjadi di Sukabumi, 9 Desember 1945. Pertempuran Bojongkokosan diperingati sebagai Hari Juang Siliwangi.



Dalam pertempuran Bojongkokosan, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan berbagai spektrum laskar rakyat, baik kiri maupun kanan, mencegat tentara Inggris. Sebanyak 73 anggota TKR gugur, begitu juga lebih dari 80 orang tentara Inggris tewas.



Letkol Edi pensiun dini dari dinas ketentaraan pada tahun 1957. Dia meninggal dunia di Bandung, 5 September 2014 dalam usia 98 tahun. Letkol Edi tidak kenal lelah membantu kehidupan para veteran pertempuran Bojongkokosan. 


(Rouses/H)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *