HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Diberdayakan oleh Blogger.

Facebook

Slider

sponsor

sponsor
spot.com

KESEHATAN

Hari Ulang Tahun


DAERAH

POLITIK & HUKUM

PENDIDIKAN

OLAHRAGA

WISATA

Selamat Berbahagia


Pages

Popular Post

SAMOSIR DARI SOME MORE SIR?

Samosir.Matalensa.co.id.Oleh : Saut Marasi Manihuruk
PANGURURAN - Judul di atas hanya guyonan seorang dosen yang mengajarkan mata kuliah Structure IV. Katanya, pernah satu waktu ada seorang turis yang mengunjungi Samosir dan dia lupa nama tempat yang ia kunjungi.

Ketika ia berkumpul dengan temannya yang baru mengadakan perjalanan dari beberapa negara. Temannya bertanya: "What place have you visited? Um ..., er ..., I don't know the name but I remember in my mind. I gave a man some money and he told me "Some more, Sir!" Yes, I remember the place, it's Some more Sir.

Sang turis pun memberi label Samosir untuk pulau kita yang kita cintai ini. Untuk cerita ini Anda boleh percaya dan tidak dan saya sendiri pun tidak percaya it's just kidding.

Namun demikian, jika dikaitkan dengan kata kangaroo hal yang serupa juga terjadi. Sebenarnya, makna kata "kangaroo" itu mempunyai makna "I don't know." Seorang turis mencoba menanyakan nama hewan terhadap penduduk asli di Australia, kemudian penduduk itu menjawabnya dalam bahasa setempat "kangaroo" yang artinya "saya tidak tahu". Hingga sekarang nama hewan itu adalah kangaroo atau kangguru dalam bahasa Indonesianya.

Kata dosen itulah asal usul kata Samosir. Mengingat ini, memang bahasa itu adalah "konvensi" penciptaan makna antara orang yang berkomunikasi. Mengapa orang sepakat kata "kursi" yaitu benda yang mempunyai kaki empat dan sandaran? Ya, karena ada konvensi dari banyak orang yang sepakat bahwa kata "kursi" untuk benda itu. Konvensi atau persetujuan makna antara pendengar dan pembicara dan dibakukan dalam kamus maka resmilah makna itu diterima oleh semua orang.

Catatan kuliah puluhan tahun yang lalu mengingatkanku akan kegembiraan yang dibangun dosen kami dalam interaksi yang akrab di ruang kelas masih menggema walaupun sang dosen telah tiada namun ingatan akan apa yang diajarkannya tetap melekat dalam ingatanku atau dengan kata lain ada "retensi" yang dihasilkan dalam pembelajaran itu dan tahan lama karena ketika kami belajar kami mempelajari mata kuliah itu dengan senang hati dan kami pun tetap mengingatnya hingga sekarang.

Terima kasih pak dosen, ajaranmu tetap melekat di pikiran dan hati kami. Kini, kami terbeban untuk membuat retensi-retensi baru terhadap anak didik kami tentang mata pelajaran yang kami ampu. Semoga kami berhasil membuat pembelajaran tidak hanya efektif, efisien, berdaya tarik, tetapi juga mempunyai retensi yang lama ....

(RANTO.S)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *