HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Diberdayakan oleh Blogger.

Facebook

Slider

sponsor

sponsor
spot.com

KESEHATAN

Hari Ulang Tahun


DAERAH

POLITIK & HUKUM

PENDIDIKAN

OLAHRAGA

WISATA

Selamat Berbahagia


Pages

Popular Post

PANCASILA BENTENG PERTAHANAN TERHADAP RASIALISME.

SAMOSIR,MATALENSA.CO.ID.
Oleh:Drs. Thomson Hutasoit.
PANGURURAN - Pancasila 1 Juni 1945 yang digali Ir. Soekarno atau Bung Karno adalah hasil penginderaan mendalam dan mendetail nilai-nilai luhur adat budaya Nusantara sejak dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote sehingga merupakan pencerminan karakter bangsa Pluralistik-Multikultural saling menghormati, saling menghargai dalam perbedaan, keragaman, kemajemukan atau kebhinnekaan atas kehendak Ilahi atas alam semesta.

Pancasila 1Juni 1945 yang mengalami perubahan redaksional tentu bukanlah merubah arti dan makna sejati ideologi kebangsaan yang digali Bung Karno. Sebab ideologi Bung Karno bukan beranjak dari kerangka teoritis, melainkan berdasar pengalaman empirik melahirkan ide, gagasan sehingga ide, gagasan Bung Karno mencerminkan kehendak rakyat Nusantara.

Menurut Pdt. Dr. Ayub Ranoh (2006) Isi ideologi Soekarno bukan pikiran ideal yang tidak kena mengena dengan situasi nyata. Pada Soekarno ideologi merupakan tanggapan atas realitas pengalaman rakyat dalam sistem kolonial. Soekarno tidak bertolak dari ide untuk merancang realitas; sebaliknya mengalami realitas kolonial menuntunnya untuk merumuskan ideologi. Jadi, apa yang dikatakannya adalah hasil membaca dan mengamati keadaan nyata yang sedang terjadi.

Bung Karno mengetahui, memahami paripurna kebhinnekaan bumi Nusantara terdiri dari; 17.508 pulau, 1.340 suku bangsa, 300 kelompok etnis, 4 ras, 742 bahasa daerah, 7.241 karya budaya, 225 warisan budaya tak benda, berbagai agama kepercayaan "impor" dan agama kepercayaan lokal, potensi kekuatan bangsa Indonesia maha dahsyat, sekaligus potensi ancaman keutuhan bangsa bila tidak dikelola dengan baik dan benar.

Aneka perbedaan, keragaman, kemajemukan atau kebhinnekaan yang berpotensi memicu tindakan rasialis sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) hanya mampu dan/atau bisa DIRAJUT PANCASILA.

Cobalah kita renungkan dalam-dalam pidato Bung Karno tentang ideologi negara mengatakan, "Tuan-tuan sekalian ! Kita sekarang menghadapi satu saat yang maha penting. Tidakkah kita mengetahui, sebagaimana telah diutarakan oleh berpuluh-puluh pembicara, bahwa sebenarnya internationalrecht, hukum internasional, menggampangkan pekerjaan kita ? Untuk menyusun, mengadakan, mengakui satu negara yang merdeka, tidak diadakan syarat yang neko-neko, yang menjelimet, tidak !. Syaratnya sekedar bumi, rakyat, pemerintah yang teguh ! Ini sudah cukup untuk internationalrecht. Cukup, saudara-saudara. Asal ada buminya, ada rakyatnya, ada pemerintahannya, kemudian diakui salah satu negara yang lain, yang merdeka, inilah yang sudah bernama : merdeka. Tidak peduli rakyat dapat baca atau tidak, tidak peduli rakyat hebat ekonominya atau tidak, tidak peduli rakyat bodoh atau pintar, asal menurut hukum internasional mempunyai syarat-syarat suatu negara merdeka, yaitu ada rakyatnya, ada buminya dan ada pemerintahannya, - sudahlah ia merdeka.

Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendirikan negara "semua buat semua", "satu buat semua, semua buat satu". Saya yakin untuk kuatnya negara Indonesia ialah permusyawaratan perwakilan. Untuk pihak Islam, inilah tempat yang terbaik untuk memelihara agama. Kita, saya pun, adalah orang Islam, --maaf beribu maaf, keislaman saya jauh belum sempurna, -- tetapi kalau saudara-saudara membuka saya punya dada, dan melihat saya punya hati, tuan-tuan akan dapati tidak lain tidak bukan hati Islam. Dan hati Islam Bung Karno ini, ingin membela Islam dalam mufakat, dalam permusyawaratan. Dengan cara mufakat, kita perbaiki segala hal, juga keselamatan agama, yaitu dengan jalan pembicaraan atau permusyawaratan di dalam Badan Perwakilan Rakyat.....(Munandar, Terj. 2008).

Inilah sebagian dari Pidato Bung Karno tentang Pancasila yang sering diabaikan, diselewengkan, dikhianati "penikmat sejarah" pemegang kekuasaan di negeri ini.

Sifat eksklusivisme telah mendorong Ego Sektoral buta, serta paham radikalisme, intoleran, anarkhisme, rasial maupun fanatisme buta lainnya menjadikan Negara Republik Indonesia seolah-oleh milik satu kelompok sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) tertentu.

Semua itu adalah buah dari pengabaian, pembelokan, pengkhianatan terhadap PANCASILA dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Karena itu, semua produk perundang-undangan, peraturan daerah (Perda) bernuansa sektarian-primordial harus segera diluruskan, dicabut atau dibatalkan karena mengkhianati PANCASILA ideologi Negara Republik Indonesia.

Tegakkan prinsip "equality before the law" sesuai pasal 27 ayat (1) UUD RI 1945. Tanpa itu, tindakan rasialisme tak pernah tuntas di negeri ini.

Salam NKRI........!!! MERDEKA.......!!!

(RANTO.S)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *