HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Diberdayakan oleh Blogger.

Facebook

Slider

sponsor

sponsor
spot.com

KESEHATAN

Hari Ulang Tahun


DAERAH

POLITIK & HUKUM

PENDIDIKAN

OLAHRAGA

WISATA

Selamat Berbahagia


Pages

Popular Post

INDONESIA TAMAN SARI BANGSA.

SAMOSIR,MATALENSA.CO.ID.
Oleh: Drs. Thomson Hutasoit.
PANGURURAN - Salah satu hal mengkhawatirkan dan mencemaskan akhir-akhir ini ialah terjadinya "Turbulensi" jiwa kebangsaan keindonesiaan akibat paham radikalisme, intoleran, fanatisme, ekstrimisme, anarkhisme memaksakan kehendak ditengah masyarakat, bangsa dan negara.

Fanatisme buta atas paham sektarian-primordial sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) telah merusak wajah kebangsaan Indonesia plural-multikultur sebagaimana digambarkan lambang negara BHINNEKA TUNGGAL IKA, berbeda-beda tetapi tetap satu yaitu; INDONESIA.

Fenomena "Turbulensi" Nasionalisme Indonesia telah diprediksi Bung Karno jauh sebelumnya. Karena itulah Bung Karno mengingatkan kepada seluruh anak bangsa, "Kalau jadi Hindu janganlah jadi India. Kalau jadi Islam janganlah jadi Arab. Kalau jadi Kristen janganlah jadi Yahudi. Tetaplah jadi orang Nusantara dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini.
Musuh terberat itu rakyat sendiri: Rakyat yang mabuk budaya luar, yang kecanduan agama yang rela membunuh bangsa sendiri demi menegakkan budaya asing".

Forcasting cerdas, jenial Bung Karno bukanlah isapan jempol belaka. Tapi sebuah analisis tajam dan mendetail atas perbedaan, keragaman, kemajemukan atau kebhinnekaan bumi Nusantara yang berkonsensus nasional membangsa, menegara diatas fondasi Pancasila, UUD RI 1945, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bung Karno mengerti, memahami paripurna, Negara Republik Indonesia terdiri dari; 17.508 pulau, 1.340 suku bangsa, 300 kelompok etnik, 4 ras, 742 bahasa daerah, 7.241 karya budaya, 225 warisan budaya tak benda, beragam agama samawi (impor), serta berbagai macam agama kepercayaan lokal, bukanlah hal mudah dan gampang untuk merawat, mengelola menjadi kekuatan maha dahsyat bagi bangsa Indonesia.

Bangsa heterogenitas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dengan segala ragam jenis ""EGO SEKTORAL"nya sebagaimana dikemukakan Presiden Jokowi pada pidato kenegaraan 16 Agustus 2019 lalu, sadar atau tidak bahaya laten ancaman keutuhan bangsa apabila tidak mampu dikelola dengan baik dan benar.

Titik gesek, benturan, konflik pada masyarakat heterogen sungguh sangat riskan terjadi akibat sifat-sifat rasialis serta fanatisme buta sektarian-primordial. Bahkan, tidak mustahil pula timbul kebencian antar sesama akibat ulah segelintir oknum memosisikan kelompoknya paling utama, istimewa, berjasa dan paling berhak di republik ini.

Kebencian sesama saudara kandung anak Ibu Pertiwi Indonesia sejak dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote atas sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) adalah kekeliruan besar dan sesat pikir dalam berbangsa dan bernegara. Sebab, menurut Nelson Mandela, "Tidak seorang pun lahir dalam keadaan membenci orang lain karena warna kulit, atau latar belakang, atau agamanya. Orang belajar membenci, dan jika mereka bisa belajar membenci; mereka juga bisa diajar untuk mencintai, karena cinta datang lebih alami ke hati manusia daripada lawannya. Cinta adalah kondisi alami dari hati, bahwa kebencian merupakan beban yang sama beratnya bagi yang membenci maupun yang dibenci" (Thomson Hutasoit, 2014).

Tindakan diskriminatif atas sentimen SARA sesungguhnya sebuah sejarah kelam diatas dunia ini. Bahkan, telah banyak mati  martir untuk memperjuangkan penghapusan sejarah kejam dan biadab itu. Lihatlah Shirley Chisholm  (21 Mei 1969) mengatakan, "Saya jauh lebih sering mengalami diskriminasi karena saya perempuan ketimbang karena saya berkulit hitam". Nelson Mandela dihukum penjara seumur hidup memperjuangkan Anti-Apartheid dan anti rasis. Dia mengatakan, "Saya mendambakan demokrasi dan masyarakat bebas dimana semua orang hidup bersama dalam harmoni dan kesempatan yang sama. Inilah cita-cita yang saya inginkan untuk hidup. Tetapi jika perlu, demi tercapainya cita-cita itu, saya pun rela mati". Marthin Luther King Jr. dibunuh 4 April 1968 di Memphis, Tennesse. Dia mengatakan, "Saya punya impian hari ini. Dari setiap sisi gunung, terdengar kumandang kebebasan".

Bangsa Indonesia patut bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berterima kasih kepada para pendiri bangsa (founding fathers) telah menganugerahkan dan mewariskan "INDONESIA TAMAN SARI BANGSA" diatas fondasi kuat, kokoh PANCASILA DAN UUD RI 1945 warisan generasi sepanjang masa.

Nah ......yang menjadi pertanyaan ialah Apakah seluruh anak bangsa mengerti dan memahami paripurna mengapa INDONESIA TAMAN SARI BANGSA.......??????!

Menurut KBBI (2007) Taman ialah kebun yang yang ditanami bunga-bunga dsb (tempat bersenang-senang); tempat (yang menyenangkan dsb). Sedangkan Sari ialah isi utama. Karena itu, Indonesia ialah tempat bersenang-senang seluruh anak bangsa tanpa kecuali maupun tanpa diskriminasi.

Sebuah taman bunga indah dan molek, mendatangkan kesenangan, memanjakan hati, menyejukkan hati dan pikiran apabila di taman bunga itu terdapat warna-warni bunga beraneka ragam. Bukan seperti kebun tebu, kebun kopi, kebun sawit, kebun teh, dll ditumbuhi tanaman homogen.

Indahnya Pelangi di ufuk biru tidak lain dan tidak bukan karena ada aneka warga didalamnya. Artinya, perbedaan, keragaman, kemajemukan atau kebhinnekaan sejatinya adalah pelangi kehidupan mendatangkan kesenangan, kesejukan dan kebahagiaan. Seorang pria akan memilih pasangan hidup perempuan yang berbeda gender dengan dirinya. Dan perbedaan gender itulah menjamin kelangsungan dan kesinambungan generasi sekaligus kesenangan dan kebahagiaan bersama.

Indonesia Taman Sari Bangsa adalah pengertian, pemahaman komprehensif paripurna tentang keindonesiaan yang tak boleh terdegradasi apalagi punah dari hati sanubari bangsa.

Siapapun yang ingin merusak dan menghancurkan Indonesia Taman Sari Bangsa sesungguhnya tidak pantas dan layak hidup di Negara Republik Indonesia, bahkan di muka bumi, karena telah memberontak terhadap karya cipta Ilahi semesta alam.

Ketika seseorang berteriak lantang mengaku diri beragama tetapi membenci karya cipta Tuhan Yang Maha Esa, bisa dipastikan dia hanyalah "BERAGAMA" tapi "TAK BERTUHAN".

Mari kita jaga dan kita rawat "INDONESIA TAMAN SARI BANGSA" tempat bersenang-senang, berbahagia seluruh anak Ibu Pertiwi Indonesia sebagai bukti nyata menghormati, menghargai para pendiri bangsa (founding fathers) sekaligus bukti riil Iman percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Bersatu kita teguh.....Bercerai kita runtuh.

Salam NKRI........!!! MERDEKA......!!!

(RANTO.S)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *