HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Diberdayakan oleh Blogger.

Facebook

Slider

sponsor

sponsor
spot.com

KESEHATAN

Hari Ulang Tahun


DAERAH

POLITIK & HUKUM

PENDIDIKAN

OLAHRAGA

WISATA

Selamat Berbahagia


Pages

Popular Post

TANAH LELUHUR DITINGGAL DAN DIRINDU.

SAMOSIR,MATALENSA CO.ID.
Oleh: Drs. Thomson Hutasoit.
PANGURURAN - Tanah leluhur (Bona Pasogit) ataupun asal-usul adalah suatu daerah tempat para leluhur suatu bangsa, etnik, suku tertentu. Tanah leluhur atau Bona Pasogit adalah bahagian tak terpisahkan dari sejarah perjalanan kehidupan manusia sebab tanah leluhur atau asal-usul salah satu bahagian situs peradaban serta pemastian dan pembuktian jati diri.

Tanah leluhur atau Bona Pasogit bangso Batak adalah kawasan Kaldera Toba, terlepas dari perdebatan yang timbul era belakangan ini. Tapi, siapapun tidak bisa mengingkari bahwa tanah leluhur adalah asal-usul bahagian tak terpisahkan dari sejarah perjalanan kehidupan yang tak bisa dihilangkan dan ditanggalkan. Sebab, apabila seseorang tidak mengetahui tanah leluhur atau asal-usul akan disebut "na lilu atau na dalleon".

Pepatah klasik mengatakan, "setinggi-tinggi bambu menjulang tinggi, akhirnya menunjuk ke pangkalnya" atau dalam ungkapan Batak disebut "satimbo-timbo ni bulu, ditudu do bonana". Artinya, sejauh manapun tanah leluhur atau asal-usul ditinggalkan, pasti selalu dirindukan. Ada peribahasa klasik berbunyi, "sayang anak dipukuli, rindu kampung ditinggalkan".

Peribahasa klasik ini sepertinya kontradiktif. Tapi apabila dianalisis cermat dan seksama memiliki korelasi dengan judul tulisan "TANAH LELUHUR DITINGGAL DAN DIRINDU". Dan jika dikaitkan dengan lirik lagu "Arga do Bona ni Pinasa di akka na bisuk marroha" akan memberi pengertian, pemahaman paripurna betapa pentingnya tanah leluhur atau Bona Pasogit bagi Diaspora Batak yang tersebar di seluruh belahan dunia saat ini.

Para Diaspora Batak yang telah meninggalkan tanah leluhur dengan berbagai sebab dan alasan kemungkinan besar jumlahnya sudah melebihi jumlah warga masyarakat yang tinggal di Bona Pasogit. Dan tingkat capaian kemajuan pun sudah melebihi capaian warga masyarakat di tanah leluhur Batak pada saat ini. Hal itu, sungguh membanggakan dan menggembirakan.

Putera-Puteri Diaspora telah berhasil di rantau orang tentu tidak akan pernah sekali-sekali pun melupakan tanah leluhurnya selama hidup. Bahkan, tanah leluhur yang ditinggalkan itu selalu dirindukan dan dicintai sepanjang masa. Buktinya, para Diaspora banyak melakukan "Pulang Kampung" atau Mudik ketika ada perhelatan ataupun perayaan  hari-hari besar tertentu agar berjumpa dan bertemu dengan keluarga, sanak famili, handai tolan untuk melepas rindu (marsombu Sihol). Dan tidak jarang pula mewasiatkan kepada keturunannya (pomparan) bila kelak tutup usia agar dikebumikan di Bona Pasogit tanah leluhur.

Tanah leluhur ditinggal dan dirindu sesungguhnya adalah sebuah ikatan batin antara Bona Pasogit dengan Diaspora yang harus dirawat, dijaga, dilestarikan dan dikembangkan energi besar mendorong percepatan kemajuan pembangunan kawasan Kaldera Toba terus-menerus dan berkesinambungan sepanjang masa.

Jembatan komunikasi Bona Pasogit dengan Diaspora harus dibangun melalui event-event budaya ataupun "Gerakan Rindu Bona Pasogit" agar sambungan tali rasa tak pernah terputus dari generasi ke generasi.

Sekaitan dengan agenda besar Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadikan Danau Toba Destinasi Wisata kelas dunia, maka keterlibatan proaktif Diaspora kawasan Kaldera Toba untuk mendukung dan memberhasilkan niat baik dan tekad kuat memajukan Bona Pasogit adalah sebuah keniscayaan. Sinergitas antara Bona Pasogit dengan Diaspora faktor pertama dan utama yang tak boleh diabaikan.

Tingkat capaian prestasi Diaspora kawasan Kaldera Toba di rantau orang, tentu tidaklah sebatas "uap na so marimpola" sebagaimana lirik lagu "Di topi parik ni hutai". Tetapi, kekuatan daya dorong di segala segmen kehidupan untuk mengubah predikat "Peta Kemiskinan" menjadi "Tanah Kemakmuran dan Kebahagiaan (Tano Hasonangan)" dambaan, impian seluruh generasi kawasan Kaldera Toba sepanjang masa.

Karena itu, sinergitas sumbangan pemikiran, finansial, tenaga atau skill Bona Pasogit dengan Diaspora dengan langkah-langkah riil sudah saatnya dikonkritisasi dengan prinsip kesatuan derap langkah "mangakkat rap tu ginjang, manimbung rap tu toru" sebagaimana wejangan leluhur kepada generasinya.

Harus disadari paripurna, meninggalkan tanah leluhur ke perantauan (Diaspora) sesungguhnya bukanlah bertujuan melupakan tanah leluhur. Tetapi, menggapai berbagai prestasi di rantau orang untuk mendorong percepatan kemajuan tanah leluhur atau Bona Pasogit yang masih jauh tertinggal dibandingkan daerah-daerah lain di republik ini.

Arga do Bona ni Pinasa di akka na bisuk marroha, ai do tona ni ompunta tu akka pinomparna. Dao pe ho nuaeng marhuta, sambulon do na hot tongtong. Sai ingot dung matua, sai mulak-mulak ma tu huta. Makna lagu ini mengingatkan, menghimbau, mengajak mencintai, merindukan tanah leluhur bagi seluruh Diaspora agar tidak lupa asal-usul.

Anak yang bijak tak pernah lupa asal-usulnya.
Tanah leluhur ditinggal dan dirindu adalah komitmen hidup yang harus digelorakan sepanjang masa.

Horas Tano Batak.....!!!
Salam NKRI......!!! MERDEKA......!!!

(RANTO.S)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *