HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Diberdayakan oleh Blogger.

Facebook

Slider

sponsor

sponsor
spot.com

KESEHATAN

Hari Ulang Tahun


DAERAH

POLITIK & HUKUM

PENDIDIKAN

OLAHRAGA

WISATA

Selamat Berbahagia


Pages

Popular Post

PLURALISME-MULTIKULTURAL JAMINAN SURVIVAL INDONESIA. Refleksi HUT Kemerdekaan RI ke 74.

SAMOSIR,MATALENSA.CO.ID.
Oleh: Drs. Thomson Hutasoit.
PANGURURAN - Kekhawatiran, kecemasan keutuhan bangsa akibat terjadinya "turbulensi" jiwa kebangsaan keindonesiaan (nasionalisme) akhir-akhir ini perlu diperhatikan cermat dan seksama sebelum jadi ancaman nyata memporak-porandakan kehidupan berbangsa dan bernegara serta mengancam survuval Negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila, UUD RI 1945, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diperjuangkan para pendiri bangsa (founding fathers) dengan mempertaruhkan jiwa dan raga.

Salah satu hal mengkhawatirkan dan mencemaskan ialah terpaparnya generasi milenia (siswa, mahasiswa), termasuk dunia kampus faham-faham radikalisme, intoleran, ekstrimisme, anarkhisme serta doktrin-doktrin ideologi baru yang sangat bertentangan dan bertolak belakang dengan Pancasila, UUD RI 1945, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah Harga Mati seperti menu-menu pemberitaan media belakangan ini.

Ketidakmengertian, ketidakpahaman, maupun pembelokan sejarah membangsa dan menegara dimotori pihak-pihak tertentu tidak mustahil akar karut-marut berbangsa dan bernegara saat ini. Karena itu, diperlukan langkah tegas dan konkrit penyelesaiannya sebagai kado Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke 74 tahun ini.

Seluruh anak bangsa harus menyadari paripurna, "Yang mempersatukan masyarakat di bumi Indonesia adalah yang dialami bersama sebuah sejarah penderitaan penindasan dan perjuangan kemerdekaan dan tekad pembangunan kehidupan bersama. Dari nasib bersama itu tumbuh hasrat untuk tetap bersama, itulah dasar kesatuan bangsa Indonesia. Puncak Nasionalisme Indonesia dapat dilihat dalam pengertian Pancasila dalam konteks Undang-Undang Dasar 1945 yang memiliki ciri-ciri yaitu disebut Nasionalisme Indonesia bersifat; Bhinneka Tunggal Ika yang tidak bersifat uniform, monolit dan totaliter, melainkan mengakui keanekaan budaya, bahasa, adat dan tradisi lokal se-Nusanatar" (Simangunsong, 2004).

Bonar Simangunsong lebih lanjut mengatakan, "Bangsa Indonesia berintegrasi dengan baik, bila satu sama lain saling menghargai dan mengasihi dan membiarkan setiap budaya berkembang mengikuti zaman tanpa tekanan atau hambatan. Paham kebangsaan memegang peranan yang teramat penting, karena inilah yang mengantar bangsa Indonesia menuju merdeka.
Senasib sepenanggungan harus tetap melekat dan merasa lebih dekat dengan sebangsanya daripada dengan bangsa lain yang seiman. Urusan iman tidak disandingkan dengan urusan kebangsaan. Urusan iman berdimensi sorga, berangkat dari dunia. Kemerdekaan kebangsaan menjadi platform bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, didalamnya tergantung paham kebangsaan".

Negara Republik Indonesia terdiri dari; 17.508 pulau besar dan kecil, dan 16.056 pulau telah didaftarkan ke Persatuan Bangsa Bangsa (PBB). Jumlah suku bangsa sebanyak 1.340, dan 300 kelompok etnik. Bahasa daerah sebanyak 742, jumlah budaya 7.241 karya budaya, 225 warisan budaya tak benda, ras sebanyak 4, dan 6 Agama dan kepercayaan resmi (data BPS, 2018), serta beberapa agama dan kepercayaan lokal pasca Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) sesungguhnya mencerminkan "Pluralisme-Multikultural Indonesia" di bumi Nusantara yang harus dirawat, dilestarikan, dikembangkan sepanjang masa.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2007) "Pluralisme ialah keadaan masyarakat yang majemuk (bersangkutan dengan sistem sosial dan politiknya). Sedangkan Pluralisme Kebudayaan ialah berbagai kebudayaan yang berbeda-beda di suatu masyarakat".

Dari konteks KBBI dan Data BPS mempertegas, bahwa bangsa Indonesia adalah sebuah negara bangsa (national state) majemuk dengan aneka ragam kebudayaan tumbuh subur di bumi Nusantara yang harus dirawat, dilestarikan, dikembangkan untuk menjamin survival bangsa dan negara Indonesia sepanjang masa.

Perbedaan harus dipandang sebagai kekayaan, hukum pertentangan, namun memerlukan penyesuaian dan pengakuan satu sama lain. Untuk mewujudkannya, diperlukan keadilan kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah dengan tidak membedakan Ras, Suku, Bahasa, Agama, dll.

Selaku sebuah bangsa yang "dipersatukan" nasib sejarah penderitaan penindasan serta tekad pembangunan kehidupan bersama, tentu sangat keliru besar dan sesat pikir bila satu sama lain saling membenci dan saling menghancurkan pasca membangsa dan menegara.

Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 yang akan merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 74 tahun ini bukan acara seremonial belaka. Melainkan sebuah refleksi "Napak Tilas Sejarah" untuk mematrikan kembali jiwa kebangsaan-keindonesiaan bagi seluruh anak Ibu Pertiwi Indonesia.

Indonesia bisa mencapai kemerdekaannya karena para pendiri bangsa (founding fathers) mampu mempersatukan Pluralisme-Multikultural bumi Nusantara kekuatan besar maha dahsyat memperjuangkan nasib dan penderitaan bersama dengan saling menghormati, menghargai, mengasihi satu sama lain, tanpa kebencian.

Karena itu pulalah Clarence Darrow (1926) mengatakan, "Saya percaya Anda tidak dapat melakukan apa pun dengan kebencian. Saya ingin melihat suatu masa ketika manusia mengasihi sesamanya, dan melupakan warna kulit atau kepercayaannya. Kita takkan pernah beradab sebelum masa itu tiba".

Jika diperhatikan cermat dan seksama, jiwa kebangsaan-keindonesiaan mengalami "turbulensi" sangat mengkhawatirkan dan mencemaskan akhir-akhir ini. Di usia 74 tahun pasca kemerdekaan justru tumbuh subur fanatisme buta sektarian-primordial mengancam keutuhan bangsa dan negara.

Berbagai macam ujaran kebencian, fitnah, hoax, hujat, hasut, provokasi, agitasi atas sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) telah merusak harmoni dan mengkhianati jiwa kebangsaan-keindonesiaan. Hal itu tentu potensi besar mengancam survival bangsa Indonesia yang harus diantisipasi oleh seluruh anak bangsa, terutama penyelenggara negara atau pemerintahan dengan tegas, tepat dan akurat.

Siapapun yang ingin mencoba-coba mengusik dan membenturkan "Pluralisme-Multikultural" bangsa Indonesia harus disikat habis dan dibumihanguskan dari bumi Nusantara. Tindakan tegas dan keras terhadap pihak Anti Pancasila, UUD RI 1945, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) haruslah menjadi agenda besar nasional demi survival bangsa dan negara.

Bung Karno Proklamator Kemerdekaan RI, Penggali Pancasila 1 Juni 1945, Presiden RI Pertama, Bapak bangsa Indonesia telah tegas mengatakan, "Negara Indonesia bukan suatu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendirikan negara "satu buat semua, semua buat satu" yaitu Indonesia..

Oleh karena itu, merawat, melestarikan, menjaga "Pluralisme-Multikultural Bangsa Indonesia" jaminan survival bangsa dan negara harus dilakukan konkrit faktual dari waktu ke waktu konsisten dan berkesinambungan. Tanpa itu, Indonesia tidak pernah hebat dan jaya.

Dirgahayu HUT Kemerdekaan RI ke 74......!!!
Salam NKRI......!!! MERDEKA......!!!

(RANTO.S)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *