HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Diberdayakan oleh Blogger.

Facebook

Slider

sponsor

sponsor
spot.com

KESEHATAN

Hari Ulang Tahun


DAERAH

POLITIK & HUKUM

PENDIDIKAN

OLAHRAGA

WISATA

Selamat Berbahagia


Pages

Popular Post

PENDEKATAN BUDAYA SOLUSI PERMASALAHAN BANGSA.

SAMOSIR,MATALENSA.CO.ID.
Oleh: Drs. Thomson Hutasoit.
PANGURURAN - Salah satu solusi permasalahan bangsa belum maksimal dilakuan ialah pendekatan budaya (culture approach) rakyat bumi Nusantara.

Sebagaimana diketahui Negara Republik Indonesia berdasar Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terdiri dari; 17.508 pulau, 1.340 suku bangsa, 300 kelompok etnik, 4 ras, 742 bahasa daerah, 7.241 karya budaya, 225 warisan budaya tak benda, 6 agama resmi, berbagai agama kepercayaan lokal (BPS 2017) adalah sebuah negara besar yang amat sangat heterogen.

Perbedaan, keragaman, kemajemukan atau kebhinnekaan bangsa Indonesia harus dimengerti, dipahami paripurna adalah sebuah aset maha dahsyat sekaligus potensi ancaman perpecahan, konflik sangat berbahaya bila tidak dikelola dengan baik dan benar.

Pluralisme-Multikultural sesungguhnya anugerah Tuhan Yang Maha Esa bagi bangsa Indonesia. Karena itu, perbedaan, keragaman, kemajemukan atau kebhinnekaan tidak boleh sekali-sekali dijadikan sumber gesekan, perpecahan, ataupun konflik ditengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Akan tetapi, sungguh sangat disayangkan dan disesalkan munculnya gesekan sosial dipicu fanatisme buta sektarian-primordial sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) sejatinya tak perlu terjadi apabila bangsa ini tidak mengingkari konsensus nasional membangsa dan menegara para pendiri bangsa (founding fathers) titik kulminasinya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.

Bung Karno telah tegas, terang-benderang mengatakan, "Kalau jadi Hindu janganlah jadi India. Kalau jadi Islam janganlah jadi Arab. Kalau jadi Kristen janganlah jadi Yahudi. Tetaplah jadi orang Nusantara dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini. Musuh terberat itu rakyat sendiri. Rakyat yang mabuk akan budaya luar yang kecanduan agama yang rela membunuh bangsa sendiri demi menegakkan budaya asing".

Penegasan Bung Karno sedemikian relevan dan aktual menunjuk kembali pada Prinsip Ketuhanan, Pancasila 1 Juni 1945 yang digalinya dari penginderaan langsung nilai-nilai luhur kebangsaan tumbuh berkembang di bumi Nusantara.

Bung Karno mengatakan, "Prinsip Ketuhanan ! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri.
Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa Al-Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW, orang Budha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya ber-Tuhan.
Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada "egoisme-agama".....

Berbagai permasalahan bangsa timbul akhir-akhir ini, pada dasarnya dipicu "Ego Sektoral" yang menganggap diri lebih hebat, lebih unggul, lebih istimewa dengan orang dan/atau pihak lain. Akibatnya, terjebak pada sifat ekskluvisme berlebihan dan ego sentris. Arogansi mayoritas-tirani minoritas menjadi menu tontonan di ruang publik. Bahkan, muncul kasus rasial yang mengancam perpecahan sesama anak bangsa di usia 74 tahun pasca kemerdekaan Republik Indonesia.

Ketika timbul gesekan sosial ditengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka penyelesaiannya tidaklah bisa dengan pendekatan hukum ataupun pendekatan keamanan semata. Pendekatan hukum, pendekatan keamanan yang mengedepankan pemberian sanksi hukum belum tentu menyentuh psikologis masyarakat bumi Nusantara. Sanksi hukum pemenjaraan kasus-kasus menyinggung ranah komunitas (suku, etnik, agama) tertentu tidak menjadi jaminan rajut kembali harmoni sosial ditengah masyarakat, bangsa dan negara.

Rakyat Nusantara terkenal beradat dan berbudaya memiliki kearifan adat budaya lokal menyelesaikan permasalahan ditengah kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh konkrit, Kearifan budaya Batak Toba, "Si boru puas, si boru bakkara. Molo dung puas, sae soada mata". Maknanya ialah ketika suatu kasus atau permasalahan telah dibicarakan, diselesaikan, maka tak akan terulang kembali. Tidak ada dendam masa lalu, karena telah diselesaikan tuntas melalui pendekatan budaya (culture approach) masih diakui dan dijunjung tinggi pada komunitas bersangkutan.

Akan tetapi sungguh amat disayangkan dan disesalkan munculnya fenomena "Rakyat yang mabuk akan budaya luar, yang kecanduan agama yang rela membunuh bangsanya sendiri demi menegakkan budaya asing" sebagaimana telah diingatkan Bung Karno kepada seluruh anak Ibu Pertiwi Indonesia.

Tidak ada satu bangsa dan/atau suku bangsa pun di Nusantara tak memiliki adat budaya masing-masing jauh sebelum republik  merdeka. Buktinya, dari 1.340 suku bangsa terdapat 7.241 karya budaya, 225 warisan budaya tak benda.
Falsafah Dalihan Na Tolu (DNT) bagi Komunitas Batak, khusunya Batak Toba adalah tatanan hubungan interaksi sosial sekaligus pedoman hidup warisan leluhur sepanjang masa. "Somba marhula-hula, Manat mardongan tubu, Elek marboru" pranata sosial sekaligus instrumen solusi bila terjadi masalah ditengah kehidupan bangso Batak.

Tidak semua permasalahan diselesaikan melalui jalur hukum atau keamanan. Tapi sebagian besar diselesaikan melalui pendekatan budaya (culture approach) dan hasilnya tuntas, serta mampu merajut kembali harmoni sosial.

Pendekatan budaya seperti inilah seharusnya didorong maksimal agar beban pengadilan menyelesaikan kasus atau perkara bisa diminimalisasi dari waktu ke waktu.

Lembaga-lembaga adat budaya harus didorong optimal karena karakter mental, moral lebih banyak dipengaruhi adat budaya masing-masing.

Sungguh amat keliru besar dan sesat pikir adanya pemikiran merusak adat budaya lokal atas alasan perkembangan investasi ataupun kunjungan pelancong (wisatawan) ke Danau Toba dari pejabat publik. Hal itu menunjukkan ketidakpahaman adat budaya bumi Nusantara yang harus dijaga, dirawat, dilestarikan, dikembangkan menu destinasi wisata kelas dunia.

Solusi permasalahan bangsa heterogen adalah pendekatan budaya (culture approach) karena sangat menyentuh hati sanubari serta psikologi sosial komunitas bersangkutan.

Salam NKRI.......!!! MERDEKA.......!!!

(RANTO.S)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *