HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Diberdayakan oleh Blogger.

Facebook

Slider

sponsor

sponsor
spot.com

KESEHATAN

Hari Ulang Tahun


DAERAH

POLITIK & HUKUM

PENDIDIKAN

OLAHRAGA

WISATA

Selamat Berbahagia


Pages

Popular Post

PEMBAURAN PERKOKOH KEBHINNEKAAN INDONESIA.

SAMOSIR,MATALENSA.CO.ID.
Oleh : Drs. Thomson Hutasoit.
PANGURURAN - Bhinneka Tunggal Ika berbeda-beda tetapi satu yakni INDONESIA secara teoritis, retorika, wacana telah lama dikenal di bumi Nusantara, terutama pasca Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.

Bersatu diatas perbedaan, keragaman, kemajemukan atau kebhinnekaan memerlukan prasyarat pertama dan utama "Meruntuhkan Egoisme, sifat ekskluvisme) atas nama fanatisme buta sektarian-primordial, sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) bukan lah hal mudah dan gampang. Sebab, karakter mental, moral egoisme, ekskluvisme pada dasarnya melekat pada setiap manusia diatas bumi. Mungkin saja kadarnya berbeda-beda. Artinya, ego suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) tak pernah lepas dari diri manusia diatas dunia dengan ekspresi berbeda-beda.

Salah satu contoh konkrit, hubungan perkawinan mengedepankan satu suku, satu agama, satu ras, satu golongan, dan lain sebagainya. Bahkan, menentukan tempat domisili yang cenderung mengedepankan sifat homogenitas berakibat munculnya ekskluvisme terutama di daerah perkotaan.

Ketika tempat domisili atau perumahan dihuni tingkat starata sosial  ekonomi kelas menengah ke atas berada atau bersanding di daerah pemukiman rakyat marginal maka segera muncul kelas sosial berbeda. Masyarakat strata ekonomi menengah keatas  cenderung bersifat ekskluvisme memisahkan diri dari masyarakat marginal karena menganggap tak selevel dengan dirinya. Klaster-klaster sosial seperti ini lama kelamaan akan melahirkan sekat-sekat sosial bersifat eksklusif ditengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Jika diperhatikan cermat dan seksama munculnya gesekan sosial terjadi belakangan ini tidak terlepas dari gejala ekskluvisme atas nama sektarian-primordial fanatisme suku, agama, ras, antargolongan (SARA) berlebihan, serta ego sektoral yang menganggap dirinya lebih hebat, lebih istimewa, lebih berkuasa, lebih berhak daripada orang lain. Sadar atau tidak, hal itu sejatinya adalah cerminan kesombongan, keangkuhan, kecongkakan, arogansi intelektual didasari egoisme akut.

Ketika manusia melembagakan "kastanisasi" sesamanya atas nama suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dia telah melakukan pemberontakan terhadap Sang Pencipta. Sebab, perbedaan, keragaman, kemajemukan atau kebhinnekaan adalah konstruksi Ilahi untuk menjamin keberlangsungan, keberlanjutan alam semesta. Sehingga menolak dan membenci perbedaan, keragaman, kemajemukan atau kebhinnekaan sama dengan menolak karya cipta Ilahi.

Di saat negeri ini merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke 74 muncul gesekan sosial berdimensi suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dipantik agen rasial yang ingin meruntuhkan kebhinnekaan Indonesia terdiri dari; 17.508 pulau, 1.340 suku bangsa, 300 kelompok etnik, 4 ras, 742 bahasa daerah, 7.241 karya budaya, 225 warisan budaya tak benda, 6 agama kepercayaan resmi, dan bebagai agama kepercayaan lokal, menimbulkan terjadinya gejolak di Tanah Papua bahagian tak terpisahkan dari Negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila, UUD RI 1945, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang diproklamasikan Bung Karno-Bung Hatta, 17 Agustus 1945 lalu.

Kejadian ini sungguh disesalkan dan disayangkan seluruh anak Ibu Pertiwi Indonesia. Harmoni persaudaraan sesama anak bangsa diatas kebhinnekaan Indonesia ternoda dan terlukai oleh ulah oknum-oknum rasis tak mengerti dan memahami proses membangsa, menegara bangsa Indonesia.

Gejolak terjadi di Papua di usia 74 tahun negeri bernama INDONESIA adalah data, fakta, bukti empirik tervalidasi betapa BHINNEKA TUNGGAL IKA belum nyata-nyata terpatri di dalam hati sanubari seluruh anak bangsa hingga saat ini.

Untuk menghindari tidak terulang kembali tentu diperlukan langkah-langkah konkrit untuk memperkokoh ke-Bhinneka-an Indonesia ke depan.

Langkah konkrit itu, antara lain; Mendorong Pembauran sesama anak bangsa di segala segmen kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Menurut KBBI (2007) "Pembauran ialah proses, cara, perbuatan membaurkan; pencampuran; peniadaan sifat-sifat ekslusif kelompok etnik di dalam masyarakat dalam usaha mencapai kesatuan bangsa; perkawinan campuran antar warga negara asli (pribumi) dan warga negara keturunan asing".

Pembauran akan menghilangkan sifat eksklusivisme yaitu; Paham yang mempunyai kecenderungan untuk memisahkan diri dari masyarakat lain yang didasari egoisme serta fanatisme buta sektarian-primordial sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Dialog kebangsaan, pembauran pemukiman atau domisili, asimilasi perkawinan, asimilasi kebudayaan, penempatan aparatus negara atau pemerintahan di seluruh wilayah Indonesia, rekrutmen aparatur tanpa diskriminasi, pertukaran mimbar, pertukaran pemuda dan tokoh masyarakat, serta even bersama, dan lain-lain adalah langkah konkrit memperkokoh ke-Bhinneka-an Indonesia.

Ruang-ruang dialog kebangsaan akan melahirkan saling menghormati, menghargai satu sama lain dalam kesetaraan, kesederajatan, keseimbangan serta persamaan hak dan kewajiban berbangsa dan bernegara.

Bukankah pepatah klasik mengatakan, "tak kenal maka tak sayang".........??????

Sifat-sifat inklusif serta merasa diri paling segala-galanya dibanding orang dan/atau pihak lain sejatinya adalah sifat ketertutupan (bagai katak dibalik tempurung -red) sehingga tak mampu melihat diluar dirinya seluas-luasnya.

Bangsa Indonesia adalah bangsa besar sesungguhnya karena bangsa Indonesia terdiri dari kebhinnekaan Nusantara menyatu dibawah Pancasila, UUD RI 1945 sehingga Negara Republik Indonesia "Taman Sari Bangsa" tumbuh berkembang Pluralisme-Multikultural dari masa ke masa selama Indonesia survival.

Oleh karena itu, upaya-upaya konkrit mendorong pembauran memperkokoh ke-Bhinneka-an Indonesia harus segera dipikirkan dan dilaksanakan oleh penyelenggara negara atau pemerintahan selaku pemegang otoritas kekuasaan di republik ini. Tanpa itu, gesekan sosial berdasarkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) tidak akan pernah tuntas hingga kapan pun.

Menanamkan pengertian, pemahaman paripurna INDONESIA dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote tidak cukup dengan untaian kata-kata indah. Melainkan langkah konkrit distribusi kemajuan pembangunan merata di seluruh wilayah Indonesia, tanpa diskriminasi apapun. 

Kita bersaudara sebangsa dan setanah air, tak boleh dipisahkan atas perbedaan apapun.

Salam NKRI......!!! MERDEKA......!!!

(RANTO.S)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *