HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Diberdayakan oleh Blogger.

Facebook

Slider

sponsor

sponsor
spot.com

KESEHATAN

Hari Ulang Tahun


DAERAH

POLITIK & HUKUM

PENDIDIKAN

OLAHRAGA

WISATA

Selamat Berbahagia


Pages

Popular Post

PANCASILA JANTUNG INDONESIA.

SAMOSIR,MATALENSA.CO.ID.
Oleh : Drs. Thomson Hutasoit.
PANGURURAN - Sungguh luar biasa penegasan Wakil Presiden HM. Jusuf Kalla (JK) tentang Pancasila pada Hari Ulang Tahun (HUT) Konstitusi 18 Agustus 2019 sehari setelah HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 74 yang dirayakan di seluruh penjuru wilayah kedaulatan RI, juga Diaspora di seluruh penjuru dunia.

Wakil Presiden HM. Jusuf Kalla (JK) mengatakan, Bung Karno selaku penggali Pancasila telah menegaskan Pancasila apabila diperas menjadi Tri Sila, dan apabila diperas lagi menjadi Eka Sila yakni; Gotong-Royong. Tapi anehnya, Pancasila kini dijabarkan seluas-luasnya hingga memakan kertas bergudang-gudang lembar kertas.

Pancasila yang seharusnya dibumikan dalam kehidupan sehari-hari, malah dianalisis berbagai teori, memang sungguh aneh bin aneh.

Mengapa....???
Bukankah Pancasila digali Bung Karno melalui  penginderaan mendalam dan mendetail nilai-nilai luhur rakyat Nusantara...???
Sebab, menurut (Ranoh, 2006) "Ideologi Soekarno bukan pikiran ideal yang tidak kena-mengena dengan situasi nyata.
Pada Soekarno ideologi merupakan tanggapan atas realitas pengalaman rakyat dalam sistem kolonial. Soekarno tidak bertolak dari ide untuk merancang realitas; sebaliknya mengalami realitas kolonial menuntunnya untuk merumuskan ideologi.
Jadi, apa yang dikatakannya adalah hasil membaca dan mengamati keadaan nyata yang sedang terjadi. Rakyat seolah mendengar suara mereka.
Dalam kritiknya, kritik rakyat tersuarakan. Ia menyebut dirinya "mulut" dan "telinga" rakyat, suatu penamaan yang bukan tanpa dasar".

Pancasila adalah jantung rakyat Nusantara yang memompa aliran tali darah persaudaraan sejak dari Sabang hingga ke Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote, terdiri dari; 17.508 pulau, 1.340 suku bangsa, 300 kelompok etnik, 4 ras, 742 bahasa daerah, 7.241 karya budaya, 225 warisan budaya tak benda, 6 agama resmi, ratusan bahkan ribuan aliran agama dan kepercayaan lokal tumbuh subur di bumi Nusantara.

Organ manusia paling penting dan tak pernah berhenti mengalirkan darah bersih ke seluruh organ tubuh lainnya adalah jantung. Dan jantung ini tak pernah berhenti siang dan malam mengalirkan darah untuk menjamin seluruh organ berjalan dengan semestinya. Ketika jantung terganggu atau berhenti mengalirkan darah, maka riwayat kematian pun akan tiba.

Pancasila pun demikian bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara Indonesia.

Ketika Pancasila mengalami gangguan ataupun diabaikan maka Negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila, UUD RI 1945, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan berpotensi "bubar dan punah". Karenanya, menjaga, merawat Pancasila keharusan seluruh anak Ibu Pertiwi Indonesia konsisten dan berkesinambungan dalam perilaku hidup sehari-hari. Bukan sekadar menjadikan bahan diskusi, seminar, dan lain sebagainya.

Sila-sila Pancasila antara lain; Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin kebijaksanaan dalam pernyataan/perwakilan, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bukan sekedar ayat hafalan belaka. Melainkan bintang penjuru, pedoman hidup, kompas penunjuk arah, landasan perilaku, pola pikir bagi penyelenggara negara atau pemerintahan, partai politik, organisasi masyarakat, dan seluruh warga negara di republik ini.

Kemerdekaan bukan hanya sebatas bebas mengemukakan pendapat atau bebas beribadah dan mendirikan tempat beribadat, bebas memperoleh pekerjaan, pendidikan, kesehatan tanpa diskriminasi, tetapi juga tidak boleh ada dominasi mayoritas atau tirani minoritas, apalagi penjajahan antara manusia antara bangsa, antara mayoritas dan minoritas. Kebangsaan Indonesia memiliki paham yang tertuang dalam motto Bhinneka Tunggal Ika, yaitu berbagai suku bangsa, berbeda agama, budaya, bahasa daerah, daerah tempat kelahiran, tetapi bersatu (manunggal) dalam satu negara yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tidak ada pilihan lain bagi bangsa Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur kecuali ber-Bhinneka Tunggal Ika sesuai paham kebangsaannya (Simangunsong, 2004).

Tafsir-tafsir teoritis tentang Pancasila tidaklah terlalu dibutuhkan. Sebab, tafsir-tafsir teoritis terlalu rumit dan menjelimet menjadikan Pancasila mengawang-awang. Pancasila tidak sekedar diperbincangkan, didiskusikan apalagi diperdebatkan. Melainkan dibumikan dan diimplementasikan dalam pola pikir, pola tindak dan perilaku hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara setiap warga negara, tanpa kecuali.

Pancasila sebagai jantung bangsa Indonesia tentu haruslah dijaga dan dirawat dengan langkah-langkah konkrit untuk menjamin survival bangsa Indonesia sepanjang masa. Egoisme sektarian-primordial sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang merusak harmoni persaudaraan sesama anak bangsa harus segera dimusnahkan tuntas. Tidak boleh dibiarkan anasir-anasir yang merongrong Pancasila dengan alasan apapun.

Sesungguhnya, pembumian dan pengimplementasian Pancasila dimulai dari perilaku, pola pikir, pola tindak penyelenggara negara atau pemerintahan yang kerap terjebak parsial, sektarian-primordial menerbitkan aturan perundang-undangan, peraturan daerah (Perda) tertentu.

Undang-undang, peraturan daerah (Perda) yang menyimpang dan mendegradasi Pancasila atas fanatisme buta sektarian-primordial sadar atau tidak salah satu akar masalah berbangsa dan bernegara pasca otonomi daerah saat ini.

Penerbitan peraturan daerah (Perda) berdasarkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) harus disadari paripurna virus mematikan Pancasila jantung bangsa Indonesia. Sebab, undang-undang, peraturan daerah (Perda) semacam itu akan meruntuhkan ke-Bhinneka-an Indonesia.

Oleh karena itu, peraturan perundang-undangan, peraturan daerah (Perda) yang menyimpang dan menyalahi Pancasila harus segera dicabut dan dibatalkan agar jantung bangsa Indonesia (Pancasila-red) bukan sekadar retorika belaka. Melainkan bintang penjuru, pedoman hidup, penunjuk arah, panduan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara secara konkrit.

Pancasila Jaya......!!! Indonesia Raya.......!!!

Salam NKRI.......!!! MERDEKA.....!!!

(RANTO.S)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *