HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Diberdayakan oleh Blogger.

Facebook

Slider

sponsor

sponsor
spot.com

KESEHATAN

Hari Ulang Tahun


DAERAH

POLITIK & HUKUM

PENDIDIKAN

OLAHRAGA

WISATA

Selamat Berbahagia


Pages

Popular Post

MERDEKA.....!!! MERDEKA....!!! MERDEKA.....!!!

SAMOSIR,MATALENSA.CO.ID AGUSTUS 18
Oleh: Drs. Thomson Hutasoit.
PANGURURAN - Inilah Pekik Merdeka.....!!! Merdeka.....!!! Merdeka.....!!! telah berkumandang ke seluruh penjuru Nusantara, bahkan ke seluruh penjuru dunia oleh Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia Bung Karno-Hatta, 17 Agustus 1945 dari Jalan Peganggasaan Timur 56 Jakarta.

Pekik Merdeka itu adalah Deklarasi Kebangsaan (Declaration of nation) lahirnya satu bangsa merdeka dan berdaulat di dunia.

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamerkan Bung Karno selengkapnya berbunyi:
"Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya.
Jakarta, 17 Agustus 1945.
Atas nama bangsa Indonesia,
Soekarno-Hatta."

Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, hari ini 17 Agustus 2019 berkumandang kembali untuk ke 74 kalinya oleh Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) DR. Osman Sapto Odang dalam rangka peringatan detik-detik proklamasi di Istana Presiden Republik Indonesia Jakarta.

Peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke 74 terasa sungguh luar biasa, membanggakan sekaligus mengharukan bagi seluruh anak bangsa.

Betapa tidak......???
Peringatan HUT RI Ke 74 menampilkan warna-warni budaya Nusantara mengingatkan dan menyadarkan kembali kebhinnekaan Nusantara terdiri dari 17.508 pulau, 1.340 suku bangsa, 4 ras, 300 kelompok etnik, 742 bahasa daerah, 7.241 karya budaya, 225 warisan budaya tak benda, 6 agama kepercayaan resmi,  dan beberapa agama dan keyakinan lokal tumbuh berkembang di bumi Nusantara "menyatu" membangsa dan menegara yakni; INDONESIA.

Jika dikaji, dianalisis cermat dan seksama proses membangsa dan menegara Indonesia adalah sebuah rangkaian sejarah penjang sejak dari Gerakan Budi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, dan titik kulminasinya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 akan tergambar terang-benderang dan gamblang betapa gigihnya para pendiri bangsa (founding fathers) melahirkan kesadaran nasional dengan "MERUNTUHKAN EGO SEKTORAL" masing-masing sebagaimana ditegaskan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di depan Sidang Istimewa MPR RI 16 Agustus 2019.

Sejarah menunjukkan, bangsa-bangsa di Nusantara sebelum lahirnya konsensus nasional membangsa dan menegara (Proklamasi 17 Agustus 1945-red) tidak pernah terlepas dari konflik, perang antar sesama semata-mata dilandasi EGO SEKTORAL fanatisme buta berdimensi sektarian-primordial sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), termasuk sentimen kedaerahan. Hal itu, dimanfaatkan penjajah kolonial dengan politik pecah-belah (devide et Impera) mengadudomba dan membenturkan  sesama rakyat Nusantara,  danmenguasai  ratusan tahun.

Makna detik-detik proklamasi kemerdekaan sesungguhnya ialah terbentuknya suatu bangsa dan negara Indonesia secara historis, bukan alami, karena suku, bahasa atau agama, melainkan karena senasib sepenanggungan dan sependeritaan dijajah Belanda selama 350 tahun (Simangunsong, 2004) serta kesadaran MERUNTUHKAN EGO SEKTORAL masing-masing.
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) didirikan oleh rakyat yang memiliki nasib yang sama, rakyat yang atas penderitaannya berkehendak, berhasrat bersama bersatu sebagai bangsa mendirikan negara. Maka Republik Indonesia adalah negara kebangsaan (nation state) dan tidak mungkin menjadi lain selama bernama Indonesia, dimana rakyatnya memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pengertian, pemahaman paripurna sejarah berdirinya bangsa dan negara Indonesia, sering dibelokkan pihak-pihak tak bertanggungjawab. Pengingkaran, pengkhianatan, pembelokan, penyelundupan sejarah kerap dilakukan semata-mata atas alasan EGO SEKTORAL. Padahal Bung Karno mengatakan, "Jangan Sekali-Sekali Melupakan Sejarah/JASMERAH".

Sektarian-primordial serta sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) di "reinkarnasi" pihak-pihak maniak kuasa. Akibatnya, konsensus nasional membangsa dan menegara dipersoalkan dengan alibi-alibi subyektif tendensius.

Peringatan detik-detik proklamasi setiap tahun sejatinya adalah "Napak Tilas" sejarah membangsa dan menegara bagi seluruh anak bangsa.

Alinea kedua Pembukaan UUD RI 1945 dengan tegas dan gamblang mengatakan, "Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur".

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 adalah tekad nasional, merdeka, bersatu, adil dan makmur bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa kecuali.

Menurut KBBI (2007) "Kemerdekaan ialah keadaan (hal) berdiri sendiri (bebas, lepas, tidak terjajah lagi, dsb)" bagi fisik maupun non fisik. Sedangkan Ho Chi Minh mengatakan, "Kemerdekaan ialah kemerdekaan bangsa adalah Kemerdekaan Mayoritas Rakyat, adalah untuk menciptakan kebahagiaan murni dan merata kepada seluruh rakyat, dan kemerdekaan hanya pantas dinamakan sebagai kemerdekaan dalam hal Dalam Negeri dimaksud tidak ada lagi rakyat yang masih menderita atau yang masih belum mengalami kebahagiaan dalam hidupnya" (Fajar AS, 1998).

Kemerdekaan Indonesia secara de facto dan de jure sudah terwujud seperti dirayakan setiap tahunnya. Tapi kemerdekaan otentik, substansial masih belum tercapai sebagaimana ditegaskan alinea keempat UUD RI 1945, yakni; melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial...dst.

Di usia 74 tahun republik ini masih ditemukan kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, keterbelakangan, kesehatan buruk, ketertindasan, ketidakadilan, diskriminasi, pelanggaran hak asasi manusia (HAM), kecemasan, ketakutan, ketidakbahagiaan ditengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Selama hal itu belum terselesaikan dengan tuntas, maka "Revolusi Belum Selesai" yang dikatakan Bung Karno "Jembatan Emas" menghantar bangsa Indonesia merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur masih belum terwujud nyata.

Karena itu pulalah Presiden Jokowi dalam visi- misi perintahannya "NAWA CITA" bertekad kuat melanjutkan "Revolusi Belum Selesai" sebagaimana dikatakan dengan tegas, "Saya mau keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia". Sebab, Indonesia " satu untuk semua, semua untuk satu, semua untuk semua" seperti dikatakan Bung Karno.

Perayaan detik-detik proklamasi ke 74 tahun ini sungguh istimewa dan luar biasa. Warna-warni busana Nusantara menggambarkan kebhinnekaan Indonesia mencerminkan "Pelangi Indah di Taman Sari Bangsa" tumbuh tersemainya Pluralusme-Multikultural cair dalam Persatuan dan Kesatuan Indonesia bersaudara sekandung anak Ibu Pertiwi Indonesia.

Ego Sektoral sekat pemisah harmoni persaudaraan RUNTUH dan MUSNAH
ketika Presiden Jokowi turun ke lapangan upacara menyapa dan menyalami tamu undangan, termasuk komandan upacara mempertegas jiwa kenegarawanan sejati terhadap seluruh rakyat Indonesia dimana pun berada. Perbedaan apapun tidak boleh sekali-sekali memisahkan sesama anak bangsa.

Solidaritas tanpa batas, Solid bergerak untuk Indonesia Raya, pasti.....pasti....dan pasti...bila seluruh anak bangsa berikhtiar dan beraksioma EGO SEKTORAL HARUS DIRUNTUHKAN dari setiap insan di negeri ini.

Bersatu kita teguh, Bercerai kita runtuh.

DIRGAHAYU HUT RI KE 74......!!!
Bravo Presiden Jokowi.....!!!
Salam NKRI......!!! MERDEKA.....!!!

Tulisan ini kupersembahkan bagi mu Ibu Pertiwi Indonesia Kado HUT Kemerdekaan RI ke 74.

(RANTO.S)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *