HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Diberdayakan oleh Blogger.

Facebook

Slider

sponsor

sponsor
spot.com

KESEHATAN

Hari Ulang Tahun


DAERAH

POLITIK & HUKUM

PENDIDIKAN

OLAHRAGA

WISATA

Selamat Berbahagia


Pages

Popular Post

HOAX ANCAMAN LATEN KEMANUSIAAN.

SAMOSIR,MATALENSA.CO.ID.
Oleh: Drs. Thomson Hutasoit.
PANGURURAN - Salah satu virus penghancur kemanusiaan lima tahun terakhir di bumi Nusantara ialah hoax. Virus mematikan ancaman laten keutuhan bangsa dilancarkan para predator kemanusiaan melalui ujaran kebencian, fitnah, hasut, hujat, provokasi, agitasi serta kampanye hitam lainnya demi memuaskan birahi nafsu kekuasaan.

Ketika manusia diatas bumi sangat menakutkan keganasan penyakit kanker, tumor, diabetes, dll sebagai penyakit mematikan maka muncul virus ganas pemangsa manusia melalui kecanggihan teknologi digital bagaikan virus mewabah menggerogoti keutuhan bangsa dan negara.

Penyakit kanker, tumor, diabetes, dll virus mematikan secara personal. Sebaliknya, virus hoax menyerang secara komunal bagaikan penyakit menular dengan kecepatan amat sangat tinggi. Berbagai anti virus tidak mampu menghambat persebaran hoax di ruang publik sehingga dibutuhkan anti body menangkalnya.

Hoax adalah informasi palsu, berita bohong, atau fakta yang diplintir atau direkayasa untuk tujuan lelucon hingga serius (politis). Secara bahasa (syinonyims, practical joke, joke, heat, prank, trick) adalah lelucon, cerita bohong, kenakalan, olokan, membohongi, menipu, mempermainkan, memperdaya, dan memperdayakan (Mr. Geogle).

Menurut KBBI (2007) Bohong ialah tidak sesuai dengan hal (keadaan, dsb) yang sebenarnya; dusta; bukan yang sebenarnya; palsu.

Di era teknologi digital penyebaran berita bergerak cepat detik per detik terlepas dari akurasi berita tersebut.

Penyebaran berita melalui konten-konten berita on line, facebook, WA, Instagram, dll sangat mudah tersebar di ruang publik. Kecepatan berita tanpa check and rechack ataupun berita berdasarkan data, fakta, bukti empirik tervalidasi menjadikan hoax atau berita bohong menyebar bagaikan virus mewabah di tengah kehidupan masyarakat, bangsa dan negara.

Eforia kebebasan menyampaikan pendapat, baik lisan maupun tulisan di muka umum yang dijamin Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum, sepertinya telah diterjemahkan "kebebasan tanpa batas" atau koridor, termasuk menyebarkan hoax atau berita bohong. Padahal, telah jelas, terang-benderang dikatakan pada konsideran menimbang selengkapnya berbunyi: a. bahwa kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum adalah hak asasi manusia yang dijamin Undang-Undang Dasar 1945 dan Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia, b. bahwa kemerdekaan setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat di muka umum merupakan wujud demokrasi dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, c. bahwa untuk membangun negara demokratis yang menyelenggarakan keadilan sosial dan menjamin hak asasi manusia diperlukan adanya suasana yang aman, tertib dan damai, d. bahwa hak menyampaikan pendapat di muka umum dilaksanakan secara bertanggung jawab sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, e....dst.

Bahkan lebih tegas lagi dikatakan pada pasal 6 selengkapnya berbunyi; warga negara yang menyampaikan pendapat di muka umum berkewajiban dan bertanggung jawab untuk: a. menghormati hak-hak orang lain, b. menghormati aturan-aturan moral yang diakui umum, c. menaati hukum dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, d. menjaga dan menghormati keamanan dan ketertiban umum, dan e. menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa.

Menghormati aturan-aturan moral yang diakui umum tentu salah satu diantaranya ialah larangan penyebaran hoax atau berita bohong. Sebab, tidak satupun suku bangsa atau etnik di bumi Nusantara menyetujui ataupun melegalkan hoax atau berita bohong. Berbohong adalah salah satu sifat karakter paling tak bisa ditolerir. Sebab, hoax atau bohong perilaku tercela, memalukan dan menjijikkan ditengah kehidupan manusia.

Menurut Akh. Muwafik Saleh (2009) Menipu, 1+1=Keterusan. "Semua sifat dengki ditempatkan di dalam sebuah rumah dan kunci untuk rumah ini adalah dusta, bohong dan menipu".(Imam Hasan Al-Asykari).
"Menipu, berbohong, dan berdusta pada orang lain sesungguhnya adalah penipuan terhadap diri sendiri. Memang, seseorang yang berbohong, seolah-olah, kebohongan itu untuk orang lain. Padahal, dia telah membohongi dirinya sendiri, meskipun secara fitrah, dirinya tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Kebohongan dan penipuan dalam dunia kerja adalah virus yang dapat mematikan reputasi seseorang. Para pendusta tidak mempunyai waktu untuk berpikir atau merenung".

Karena itu pula lah Polonius berkata kepada puteranya Laertes: This above all: to thine ownself be true, and is must follow, as the night the day, thou cannot then be false to any man. (Inilah yang terutama: jujurlah pada diri sendiri, lakukan dengan setia, bagai malam berganti siang, maka kau mustahil berbohong pada orang lain).

Untuk menghilangkan atau minimal mengurangi virus hoax atau berita bohong yang menjadi salah satu ancaman laten kemanusiaan diperlukan tindakan tegas tanpa pandang bulu. Tidak boleh dibiarkan merusak.karakter mental, moral bangsa. Undang-undang kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum atau penyebaran hoax atau berita bohong perlu lebih dipertegas serta hukuman lebih berat.

Kejujuran ataupun integritas tidak akan pernah terwujud bila hoax atau berita bohong tidak dimusnahkan dari bumi Nusantara.

Salam NKRI........!!! MERDEKA.......!!!

(RANTO.S)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *