HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Diberdayakan oleh Blogger.

Facebook

Slider

sponsor

sponsor
spot.com

KESEHATAN

Hari Ulang Tahun


DAERAH

POLITIK & HUKUM

PENDIDIKAN

OLAHRAGA

WISATA

Selamat Berbahagia


Pages

Popular Post

DUA TAHUN MENUNGGU ,KELOMPOK TANI INI TAK DAPAT BANTUAN


SAMOSIR,MATALENSA.CO.ID.
PANGURURAN - Sejumlah petani di Samosir hingga saat ini masih menunggu Bantuan Alat mesin pertanian (Alsintan),  dan tiap kali panen harus fokus membayar hutang. Ungkapan itu disampaikan Resmin Sinaga (64), anggota kelompok tani di Desa Pasaran Parsaoran, Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir, Selasa (7/8/2019) tengah hari.

"Asal panen hami, ikkon manggarar utang (Asal kami panen, jadi fokus membayar hutang)."ujar wanita bercucu 13 yang sudah 43 tahun mengaku janda ini.

Resmin merupakan anggota kelompok tani Martabe yang diketuai Halomoan Situmorang. Resmin dan kelompoknya siang itu terlihat sibuk menjemur jagung yang sudah dipipil di halaman rumah adat di desa  Batak berbenteng bambu
itu.

Berbincang dengan Natale sa.co.id, Resmin yang akrab disapa Oppu Maringan itu mengatakan, mereka tidak memiliki mesin pemipil jagung seperti kelompok tani desa tetangga. Resmin dan Halomoan mengaku iri melihat kelompok tani tetangga yang mendapat Alsintan, sehingga bisa lebih produktif.

"Kami masih minjam-minjam untuk memipil jagung dari Palipi,"terangnya.

Mesin yang selama ini mereka pinjam sewa milik perorangan dari Palipi tidak maksimal. Hasil yang diharapkan pun tidak seproduktif seperti kelompok tani tetangga.

"Kalau yang kami pinjam itu mesinnya kecil dan harus berhenti-
kecil itu enggak bisa panjang 'mangalong',"timpal Halomoan Situmorang, Ketua Kelompok Tani Martabe yang mendampingi Remin.

Disinggung soal perbandingan produksi yang dihasilkan memipil jagung memakai Alsintan jatah Pemerintah seperti kelompok tani sebelah, tentu berbeda dengan mereka. Kalau perbandingannya, mesin dari Alsintan pemerintah ini tetangga berbanding 1 dibanding 4.

"Artinya, kalau mesin pemipil dari perintah seperti kelompok tani sebelah bisa menghasilkan 1 ton jagung. Sementara mesin yang kami pinjam ini hanya bisa 400 Kg saja, tentu jauh perbedaanya,"tambahnya lagi.

Kelompok Tani Martabe hingga saat ini masih fokus membayar hutang modal. Apalagi, lahan yang mereka olah untuk perkebunan jagung itu termasuk lahan yang sulit dibuka dan  membutuhkan ongkos lebih banyak.

"Sebelum ini, kami mengutang membeli jetor senilai 35 juta rupiah. Setahun, kami belum ada hasil karena fokus membayar hutang meski sudah dua kali panen. Hasilnya, menutupi utang, dan baru inilah kami baru akan membagi penghasilan untuk kelompok ini,"sahut Resmin lagi yang saat ini juga sambil menyekolahkan cucunya yang duduk di bangku Kelas tiga SMA di Kecamatan.

Diakuinya, untuk pengadaaan bibit dan pupuk memang pernah dibantu pemerintah. Sayangnya, dalam pembagian bibit tahun ini mereka tidak dapat, sehingga bingung untuk menanam apa selanjutnya. "Sebelumnya bibit dan pupuk memang dikasih. Satu trip ini tak dapat kami"jelasnya.

Sinaga, anggota kelompok mereka yang lain menjelaskan hanya jagunglah yang cocok ditanam di lahan mereka. Kacang panjang, dan padi pernah mereka tanam dan mereka merugi akibat hama seperti tikus dan 'apporik' sejenis burung yang menghabisi padinya.

Halomoan Situmorang menuturkan, mereka sudah dua tahun bermohon melalui UPTD agar memperoleh bantuan Alsintan. Ada dua proposal yang dilayangkan, dan akhirnya mereka mendapat jetor pada 2017 dan pembagian Jetor 2018 tidak dapat lagi. Juga Alsintan pemipil jagung tak mereka peroleh.

Pada november 2018 katanya mereka pergi ke Dinas Pertanian Samosir dan ada banyak alsintan dilihatnya. "Tetapi kami tidak dapat. Kelompok tani tetangga sebelah juga kami lihat tidak ada. Ada 8 poktan di sini,"bebernya.

Kelompok tersebut katanya kembali sejak 2017 dan beralih fokus ke tanaman Jagung. Kali ini panen ke tiga, dan selama panen mereka hanya menggunakan mesin kecil.

Lahan yang dikelola seluas 3 hektar dan rata-rata 15 ton hasil produksinya sekali panen. Untuk, pembayaran jasa mesin dilakukan sistemnya bayar perkilo. Perkilo jagung harga jual Rp 3500 dan Rp 500 disisihkan kepada si penyewa mesin pipil dari perkilo jagung yang terjual.

Pada 2017, mereka sudah pernah menyampaikan hal itu kepada Pemkab Samosir agar mendapat bantuan seperti kelompk tani lainnya. Hingga saat ini, mereka masih berharap mesin itu dapat mereka peroleh.

"Pertama kami panen raya, Maret 2017 kami mengundang Bupati Samosir beserta dinas terkait dan saat itu dijanjikan. Tapi, sampai sekarang belum ada. Akhirmya, kami yang mendasari, karena mengelola lahan tidur itu kami kelola dengan traktor. Dan kami patungan modalnya,"ucapnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Samosir, Viktor Sitinjak mengatakan saat ini Pemkab tengah berupaya mengajukan permohonan Alsintan ke Pemerintah Pusat. "Terkait itu, tahun ini kita sedang mengajukan permohonan kepada kementrian pertanian, mudah-mudahan ini segera bisa didistribusikan. Baik itu mesin pemipil jagung, hingga embung,"tuturnya

Hal itu kata Viktor karena keterbatasan Alasintan yang diterima Pemkab Samosir dari Pemerintah Pusat. Namun, dianjurkannya seperti disampaikan Kelompok Tani Martabe  sudah mengajukan pada tahun 2017 lalu dia berjanji melakukan pengecekan melalui Kepala Bidang yang menangani.

Terkait pembagian yang dianggap Kelompok Tani Martabe tidak merata, Viktor juga menyampaikan pihaknya akan segera melakukan peyelidikan untuk mengurai persoalan. Data-data yang pernah masuk katanya akan dicek kembali, termasuk mencari tahu nama-nama kelompok tani yang terdaftar.

Dia juga menganjurkan, kepada kelompk tani bisa mengajukan kembali permohonan sesuai kebutuhannya."Silahkan datang langsung ke kantor, kita akan layani. Kalau pun sudah pernah memohon pada 2017 lalu silahkan saja datang. Kita akan mengutamakan yang terdahulu mengajukan,"jelasnya.

Terkait poktan Martabe yang ketinggalan tidak mendapat Alsintan, sesuai arahan Bupati pada 2017 lalu diyakininya ada kelalaian pada instansinya. Kelalaian tersebut, katanya bisa jadi apa yang diinstruksikan Bupati Samosir saat itu tidak dicatat.

"Mungkin saja kesalahannya, pada saat itu tidak dicatat sehingga lupa apa yang diprioritaskan. Tapi, terimakasih kami akan evaluasi itu,"beber Viktor yang baru menjabat Kadis Pertanian sejak Februari 2019 ini.
(RANTO.S)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *