HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Diberdayakan oleh Blogger.

Facebook

Slider

sponsor

sponsor
spot.com

KESEHATAN

Hari Ulang Tahun


DAERAH

POLITIK & HUKUM

PENDIDIKAN

OLAHRAGA

WISATA

Selamat Berbahagia


Pages

Popular Post

POTRET PERPOLITIKAN INDONESIA 2019.

SAMOSIR,MATALENSA.CO.ID.
PANGURURAN - Perhelatan politik Pilpres, Pileg Serentak 2019 17 April 2019 kini memasuki tahap akhir perhitungan perolehan suara setiap kontestan di Komisi Pemilihan Umum (KPU, KPUD) secara berjenjang hitung manual sesuai ketentuan UU No. 7 tahun 2017 tentang Pilpres, Pileg Serentak 2019.

Tahapan akhir ini sangat ditunggu-tunggu sebagai babak akhir menentukan keterpilihan menduduki kursi "kekuasaan" bagi setiap kontestan Pilpres, Pileg Serentak 2019 yang sarat dinamika, romantika selama tujuh bulan lebih berjuang merebut simpati, dukungan dan hak pilih konstituen.

Berbagai taktik strategi pamungkas telah dilakukan kontestan secara optimal, baik taktik strategi politik santun, beretika, berbudaya dan beradab, maupun taktik strategi politik menghalalkan segala cara tanpa kesantunan dan keadaban sebagaimana telah tersaji di ruang publik membuat calon konstituen semakin tercerdaskan dalam berpolitik.

Taktik strategi merebut simpati, dukungan dengan berbagai instrumen telah mampu meningkatkan partisipasi pemilih sangat luar biasa pada Pilpres, Pileg Serentak 2019, terlepas berkualitas atau tidak taktik strategi dimainkan para kontestan memberi pendidikan politik sebagaimana diamanahkan konstitusi.

Pesta demokrasi rakyat Pilpres, Pileg Serentak 2019 setidaknya telah berhasil meningkatkan animo politik cukup signifikan. Dari data sementara jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) 193 juta lebih jumlah rakyat pemilih telah mencoblos di TPS sebanyak 155 juta lebih atau setara dengan 80,1% jumlah DPT Pilpres, Pileg Serentak 2019.

Angka Partisipasi Aktif 80,1% adalah sebuah prestasi luar biasa dalam pendidikan politik rakyat. Hal itu menggambarkan rakyat Indonesia tidak lagi alergi terlibat dalam arena politik seperti di masa-masa sebelumnya yang angka partisipasi masih sangat rendah, baik Pilpres, Pileg maupun Pilkada.

Sekedar menyegarkan ingatan, di zaman Orde Baru (Orba) anak negeri terkesan "takut" membicarakan politik di ruang publik. Akibatnya, pengertian, pemahaman rakyat terhadap politik selalu diartikan negatif dan momok paling menakutkan. Hal itu, sungguh keliru besar dan sesat pikir, karena bila rakyat tidak mau tau dengan perjalanan bangsa dan negaranya sungguh sangat berbahaya.

Tingkat partisipasi aktif pemilih 80,1% pada Pilpres, Pileg Serentak 2019 menggambarkan lahirnya kembali animo politik serta partisipasi aktif memilih calon pemimpin layak dan dipercaya mengemban amanah kepercayaan rakyat dalam berbangsa bernegara lima tahun ke depan.

Angka partisipasi aktif pemilih sebesar 80,1% akan mengurangi tingkat resistensi terhadap calon pemimpin. Artinya, tingkat partisipasi aktif pemilih rendah akan menimbulkan tingkat resistensi (penolakan) sangat besar terhadap seorang pemimpin terpilih, demikian sebaliknya. Dukungan publik yang besar terhadap seorang pemimpin akan sangat berpengaruh besar terhadap kesinambungan, keberhasilan kepemimpinan ke depan.

Hal inilah salah satu nilai positif Pilpres, Pileg Serentak 2019 yang perlu disyukuri seluruh anak bangsa dari perhelatan besar pesta demokrasi rakyat di Negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila, UUD RI 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Bhinneka Tunggal Ika telah HARGA MATI.

Benih-benih bernas animo politik rakyat pada Pilpres, Pileg Serentak 2019 tidak boleh "dibunuh dan dimatikan" perdebatan, perseteruan politik pasca Pilpres, Pileg Serentak 2019. Sebab, bila perdebatan, perseteruan tak proporsional terus-menerus diperpanjang akan berpotensi besar "membunuh, mematikan"  animo politik, bahkan  menimbulkan alergi politik ditengah masyarakat dan bangsa seperti sediakala.

Para elite politik, tokoh bangsa dituntut kearifan sungguh-sungguh memberi keteladanan kedewasaan berpolitik agar animo politik rakyat tidak layu sebelum berkembang. Angka partisipasi aktif pemilih sebesar 80,1% harus dijaga dan dirawat sebaik-baiknya agar pendidikan politik rakyat di negeri ini meningkat dari waktu ke waktu.

Di usia 74 tahun pasca kemerdekaan sudah saatnya benar-benar mampu berdemokrasi substantif, bukan lagi sekadar demokrasi prosedural.

Bravo Indonesia......!!!
Damai lah Indonesia......!!!


Salam NKRI.......!!! MERDEKA.......!!!

Penulis : Drs. Thomson Hutasoit.

(RANTO.S)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *