HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Diberdayakan oleh Blogger.

Facebook

Slider

sponsor

sponsor
spot.com

KESEHATAN

Hari Ulang Tahun


DAERAH

POLITIK & HUKUM

PENDIDIKAN

OLAHRAGA

WISATA

Selamat Berbahagia


Pages

Popular Post

Kemiskinan Maluku Bukan Komoditi Politik Dagang.

Julius R.Latumaerissa.
Ambon - Maluku.Matalensa.co.id. Masalah kemiskinan Maluku kembali menjadi bahasan di beberapa kalangan baik pemerintahan maupun para politisi di Maluku. Apalagi menjelang perhelatan politik di Pemilu 2019, sebab
dalam dua hari terakhir ini masalah kemiskinan ini kembali hangat  diperbincangkan.
Bahwa persoalan kemiskinan Maluku hari ini, jangan lagi dijadikan materi diskusi dan perdebatan konsep, atau komodoti dagang politik namun sebaiknya persoalan kemiskinan  harus dilihat sebagai masalah bersama kita semua sebagai orang Maluku. Hal itu disampaikan  anak Maluku  Julius R.Latumaerissa yang juga Dosen Perbankan Internasional pada  Universitas  Prof.Dr Moestopo Surabaya  kepada penulis melalui ponsel hari ini Senin 27/8/2018 . Latumaerissa menandaskan,
dasar pemikiran   sederhana bahwa  semua kita sudah paham tentang kemiskinan Maluku sejak tahun 2010 tercatat sebesar 25,32% dan mengalami penurunan secara bertahap sampai tahun 2017 tercatat sebesar 18,45%. Secara absolut angka ini mengalami penurunan, tetapi bukan berarti persoalan kemiskinan di Maluku selesai dan kesejahteraan rakyat membaik.

Jika kita lihat tingkat kemiskinan ini menurut Kabupaten/Kota di Maluku, maka Kabupaten MBD yang paling tinggi 30,18% dan berikutnya adalah Kabupaten MTB dan Kep.Aru, masing-masing 27,47% dan 27,13%, disusul Kabupaten SBB sebesar 25,49% dan terendah adalah Kota Ambon sebesar 4,46% .

Selanjutnya menurut Latumaerissa alumni  UGM Jokjakarta yang biasa disapa Pa Ulis, mengatakan bahwa
hal ini disebabkan karena kemiskinan Maluku menurut saya bukan kemiskinan moneter yang diindikasikan dengan rendahnya pendapataan nominal siap belanja (disposable income) saja, sebab rendahnya disposable income adalah akibat dan bukan sebab. Banyak faktor yang menyebakan kemiskinan di Maluku, sehingga menurut saya kemiskinan Maluku adalah kemiskinan multidimensi, sehingga penangananya harus dilakukan melalui program-program pembangunan yang terkoordinasi lintas sektor dan lintas lembaga terkait.

Selanjutnya di katakan bahwa kemiskinan Maluku sebaiknya hari ini harus dilihat sebagai masalah bersama  dan bukan saja masalah pemerintah daerah, namun bukan berarti bahwa Pemda di Maluku berdiam diri atau mengatasi masalah ini dengan program-program mercusuar dan atau program yang sarat dengan muatan politis, tetapi pendekatan yang harus dilakukan adalah Berbasis masalah  dan wilayah.

Masalah bersama artinya semua elemen anak Maluku saatnya sekarang  sebaiknya bersama pemerintah daerah melakukan berbagai "program aksi" untuk mengatasi masalah ini, dengan  catatan  bahwa pemerintah daerah harus membuka diri, sehingga persoalan ini bisa diatasi bersama.

Pemerintah daerah diharapkan dapat menjadi eksekutor dan juga sebagai fasilitator kepada elemen masyarakat untuk melakukan berbagai program aksi, dan jika tidak hal ini akan menim bulkan persoalan  baru yang lain.

Dengan pendekatan ini maka menurut saya jangan lagi masalah kemiskinan ini dijadikan "komoditi politik "untuk diperdagangan dalam berbagai perdebatan dan diskusi, karena hanya menimbulkan gesekan-gesekan yang destruktif tanpa solusi. Yang ada kita hanya mempersalahkan pemerintah daerah dan pemerintah pusat, padahal masalah kemiskinan ini juga ditimbulkan dari kehidupan masyarakat Maluku yang tidak disiplin dan rendah etos kerja.

Masing-masing pihak dan unsur akan merasa paling benar dan paling hebat, sehingga menurut saya hentikan perdebatan dan secara bersama memulai program aksi  yang konstruktif untuk membantu pemerintah daerah dalam mewujudkan masyarakat Maluku yang lebih sejahtera.

Medsos ini bukanlah tempat yang tepat untuk mengkaji dan membahas persoalan ini secara komprehensif terintegrasi, namun paling tidak framework pikir dari persoalan ini bisa kita angkat melalui medsos untuk menjadi perenungan kita bersama.

Apa yang saya kemukakan disini adalah bersifat pendapat  pribadi, namun kemiskinan adalah masalah katong semua .Demikian  Pa Ulis sekali lagi menekankan  dengan dialek Ambon ,  kemiskinan adalah masalah katong semua.

Ambon 27/8/2018 .
Penulis : Christ.Z.Sahetapy.

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *