HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Diberdayakan oleh Blogger.

Facebook

Slider

sponsor

sponsor
spot.com

KESEHATAN

Hari Ulang Tahun


DAERAH

POLITIK & HUKUM

PENDIDIKAN

OLAHRAGA

WISATA

Selamat Berbahagia


Pages

Popular Post

Belajar Damai Dari Maluku Bukan Keniscayaan.

 Ambon.Matalensa.co.id. Talkshow di Kompas TV   16/8/2018 malam   dengan pemandu  ROSI  dengan mengambil judul : Belajar Damai Dari Maluku,  bukan sebuah keniscayaan untuk  menjadi tranding topik yang menarik. Hal itu disebabkan  kontennya bukan substansi masalah  yang sebenarnya .    Perdamaian itu harus berasal dari kejujuran dan kebenaran sejati  untuk  mengungkapkan masalah yang sebenarnya dan seadil -adilnya tentang Penyebab terjadinya konflik Maluku yang berakibat memiliki sejarah  berkepanjangan yang seyogianya tidak diinginkan oleh semua rakyat Maluku sebagai  basudara satu gandong dan  orang beragama .  Tercabiknya hubungan basudara  satu gandong   yang telah hidup ribuan tahun di Negeri Leluhur sendiri.   Sebagai anak Negeri harus  memiliki hati  "hiti- hiti hala-hala" melawan  lupa keterlibatan  berbagai pihak . Dan seharusnya merasa tersentuh  karena dipakai istilah konflik antar Agama dengan menghadirkan dua  anak muda dari dua komunitas agama berbeda Kristen dan Islam  istilah katong basudara gandong Salam Sarane,  Kedua komunitas agama   yang bertikai  hadir disertai beberapa peran dari orang -orang yang hadir sebagai simbol  pelaku konflik Maluku memberikan makna khusus dan pesan kepada publik dan khalayak  yang menonton.   Sebuah pelecehan yang didramatisir  bahwa kami  orang Maluku Salam Sarane  pergunakan agama untuk konflik. Sementara  saat  konflik Maluku saat itu kedua basudara gandong  dijadikan  sebagai  aktor  ignorance  dan eksploitasi untuk berkonflik akibat dari rekayasa politik  mastermind dengan manajemen konflik yang didesain sangat rapi dari mastermind terdidik dan terlatih sehingga memicu frekwensi konflik dari tahun 1999 -2004.                                    Talkshow dari dua komunitas  menampilkan keduanya  sebagai pesakitan  dengan istilah  persaudaraan di Maluku saudara  SALAM dan saudara  SARANE. Penampilan itu dalam ilmu komunikasi disebut pola gelang karet meremas  dimana Rosi mengejar apa yang mereka buat dalam konflik , dan menampilkan sosok kedua yang mewakili masyarakat Maluku yang bertikai berdarah -darah sampai saling membunuh dengan menggeser mastermind  sebagai methode  antar teks yang mengukir tulisan sekaligus men just  kejahatan antar agama kedua belah pihak.luar biasa Rosi mencuci bersih siapa  otak intelektual / mastermind yang provokasi kedua komunitas dari panggung Talkshow  Kompas TV , sementara puluhan batalion membungkus kota Ambon dan BKO ada dimana mana. Rasanya kopi pahit robusta sementara diteguk satu persatu basudara e.

Orang Maluku secara tidak sadar  dipertontonkan dipublik tanpa mengerti bahwa percakapan tokoh Maluku yang hadir  seperti itu adalah bagian dari sebuah skenario baru untuk mencuci dan  menguntungkan para elit yang terlibat mendesain  peristiwa genocide terhadap rakyat Maluku. Dan  sekaligus men just bahwa yang buat konflik itu Basudara Gandong Maluku sendiri.

Dalam ilmu  komunikasi  dapat dibedah  sistem untuk  memahami betul media  talkshow Kompas TV 16/8/ 2018  Rosi harus pergunakan  retorika gaya "Cicero" dengan tahapan Investio barulah dilakukan Talkshow. Tapi analogi komunikasi  tentang  Talkshow  yang dilakukan sejalan dengan rentetan pertemuan beberapa bulan lalu ditahun 2018 ini dimana para tokoh dan  pimpinan di Maluku  diajak ke Jakarta bicara tentang Perdamaian di Maluku    yang diduga kuat dibalik itu untuk menutup kejahatan Negara terhadap rakyatnya sendiri.                      Dalam membedah behavior ahli strategy ,  Mereka sudah hitung kemampuan dan kecerdasan serta kekritisan yang selama ini sudah dilumpuhkan dengan berbagai cara, sehingga Maluku masuk kategori termarjinal , miskin rendahnya pendidikan. Pola gelang karet meremas , meredam dengan berbagai bujukan .Keadilan dan kebenaran ditutupi tapi juga sebagi komoditi   meningkatkan track record  dengan   meredam  kecerdasan anak Maluku melalui  struktur -struktur pemerintahan maupun budaya masyarakat Maluku .
Pada tataran berpikir ratsional  itulah diberlakukan 
 teori Anthony Giddens  yaitu bila ada dualisme pasti ada dualitas dimana  pintu simbiosis mutualistis dipermainkan dalam sandiwara belajar damai dari Maluku dipanggung Kompas  TV .
Mereka lupa bahwa sandiwara belajar damai dari Maluku yang dipertontonkan hanya sebuah  ketundukan ( compliance)  namun konflik Maluku telah dipahami rakyat  sebagai sebuah  bukti  Power distanct yang sudah dipahami masyarakat Maluku mulai tertanam secara dalam saat konflik yang multi effeknya  memiliki dimensi ruang dan waktu tetapi juga jarak yang panjang antara Negara dan rakyatnya sehingga Provinsi Maluku berada diperingkat marjinal termiskin tertinggal, baik dibidang ekonomi maupun pendidikan.

Analoginya , dari sisi komunikasi politik, pesan dari talkshow  itu jelas- jelas sebuah pola yang dibangun untuk memindahkan persoalan dari sebuah ruang keruang yang lain. ( istilah Jurgen Habermas percakapan lompat pagar).Destinasinya  yaitu menjadikan   saudara-saudara Salam Sarane sebagai subyek  sekaligus menuduh bahwa yang menyebabkan  konflik Maluku  adalah Basudara Gandong sendiri. Namun akar masalahnya  tidak ditampilkan  di acara itu. Pada tataran politik kontemporer dari konflik vertikal di pusat pemerintahan jaman orde baru ditarik ke konflik horisontal  yang berawal dari proses  Peristiwa Ketapang   ke Kupang  masuk Poso dan berakhir di Maluku.  Itulah substansi politik kontemporer sejalan  teori Iqnas Kleden yang membahas teori Argumentum ad rem dengan argumentun ad popolum.                      Tokoh agama Maluku saat menjawab pertanyaan  Rosi  di acara Kompas TV  , para pemuka agama hanya  menampilkan eskalasi konflik sebagai akibat bukan sebab . Harusnya beberapa hal sederhana  disampaikan  antara lain :                          1.Siapa dibalik konflik Maluku itu Karena sudah tidak menjadi rahasia umum bahwa yang terlibat para elit-elit pusat dengan mengembangkan berbagai issu termasuk Republik Maluku Selatan  yang buat konflik.                       Dalam membedah konflik Maluku hasil penelitian menulis  thesis yang disusun dengan judul : "Dekonstruksi Stigma Republik Maluku Selatan   ( RMS) Sebagai Pengaruh Komunikasi Politik Nasional " yang sudah berada di perpustakaan Maluku dengan berbagai teori membuktikan bahwa konflik Maluku bukan konflik Agama . RMS dipakai sebagai stigma perpecahan Salam Sarane   dan meningkatkan eskalasi konflik yang berkepanjangan termasuk berbagai issu awal tapi tidak bisa dibuktikan .             
2.  Relokasi kedua komunitas dan garis demarkasi sebagai  batas  yang rawan  konflik dengan menuduh  RMS sebagai dalang. Buku  yang ditulis Semuel Waileruny Judul : "Membongkar Konspirasi dibalik Konflik Maluku",  yang telah mendapat penghargaan didunia Internasional telah membongkar issu - issu  yang dipakai Para aparat , tapi issu-issu tersebut  tidak terbukti kebenarannya.       Selama konflik  issu-issu itu berputar dalam sistem komunikasi para komunikator yang menjadi Provokator sehingga   orang Maluku termakan dan  dijadikan tumbal politik akibat politik adu domba agar  pecah belah.

Penulis Buku Gurita Cikeas George Junus Aditjondro yang menjelaskan orang orang Jakarta dibalik konflik Maluku.
http://socio-politica.com/2013/07/22/orang-orang-jakarta-di-balik-tragedi-maluku-1/

Dengan demikian Judul wawancara ROSI itu tidak menyentuh substansi masalah.Dan bukan sebuah keniscayaan .   Yang Seharusnya   berjudul :  Belajar Pelanggaran HAM oleh Negara di Maluku.
Keniscayaan terletak pada pelanggaran HAM ketika terjadi Genocide .  Negara tidak boleh melepaskan tangan dan mencuci tangan dengan pola gelang karet.               
3. Dalam Tayangan itu terdapat  tokoh Maluku dan tokoh Agama  tidak berani  ekspos  bahwa,ada tuntutan rakyat Maluku agar membuka  hasil Tim Investigasi Independen Nasional (TIIN) sesuai hasil Perjanjian Maluku  Malino  butir ke 6 sampai  hari ini tidak tau kemana rimbanya.

"Beta ingat betul : Dalam debat diruang Dewan saat rencana membuat perda tertentu  ,  Beta   minta dari ketua DPRD Maluku Z.Sahuburua ( sapaan Pa Eti)  agar menuntut pemerintah pusat membuka hasil tim investigasi independen nasional    (TIIN) hasil perjanjian Maluku di Malino khusus butir 6 harus dibuka baru perda dibuat.  Bukan saja diruang Dewan tapi  juga saat Beta dan Pa Yunus Tipka dibawa ke Mendagri oleh Ketua Dewan  karena debat diruang dewan tentang perda tertentu. Dalam pertemuan dengan Mendagri , Beta juga minta Mendagri agar hasil TIIN sebagai  hasil kesepakatan perjanjian Maluku di Malino khusus butir 6 harus dibuka dulu baru Perda tersebut  diloloskan. Apa  hasilnya ? Perda tersebut  dibatalkan sampai selesai masa jabatan tidak pernah dibahas. Perda  apakah itu  boleh bertanya kepada  Pa Ety  Sahuburua bersama Mantan DPRD Prov.Maluku periode 1999-2004. Sampai kini kenapa hasil TIIN tidak dibuka , kemana nasib hidup Salam Sarane ? .

Apakah mungkin ditunggu tokoh-tokoh kunci sebagai saksi hidup sejarah pembantaian itu sudah tiada barulah dibuka dengan menghilangkan bukti-buktinya sekaligus direkayasa hasilnya.
Catatan , untuk para pemimpin  dan generasi Maluku  yang baca  tulisan ini mengingatkan kita semua agar jaga integritas diri , tragedi dan genocide terhadap orang Maluku adalah  "Pelanggaran Hak Azasi Manusia terberat "  di dunia  yang dilakukan oleh Negara yang tidak mau membuka hasil TIIN  dan  harus dituntut  agar dibuka terang benderang dihadapan generasi ini demi  penyelesaian Maluku  damai atau dibawa  kepengadilan Internasional , agar jangan  jadi komoditi politik bagi kepentingan tertentu.     

 Ambon 17/8/2018. Penulis : Chris Sahetapy, Magister Ilmu Komunikasi ,Alumni Pasca Sarjana Universitas Sahid Jakarta ( Nama Terdaftar pada pangkalan data Universitas dan pangkalan data Dikti Pusat).

Previous
« Prev Post

1 komentar:

Bapen, Rossi pung acara tu hanya semacam talk show nostalgia kerusuhan di Maluku.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *